Bali Ming Cilacap!

Saya tidak biasanya memberi judul bahasa Jawa, kan? Bagus. Now, you notice that.

Kata-kata dan paragraf yang akan kamu baca di bawah ini juga bukan puisi atau kata-kata berdiksi mendayu seperti posting-an saya sebelum-sebelumnya. Kali ini saya hanya mau duduk sebentar dan bercerita soal kota di selatan Pulau Jawa, sebelum kembali mengedit naskah yang belum selesai-selesai. Huhuhu.

Jadi, ayo kita mulai!


IMG-20160717-WA0002.jpg

 

Kalau main ke laman resminya Cilacap di sini, pasti tau kalau Kabupaten Cilacap itu daerah terluas di Jawa Tengah. Kecamatannya banyak, dari abjad A sampai W; alias Adipala sampai Wanareja.

Jadi gini, loh…

Biasanya, orang-orang denger nama Cilacap itu reaksinya beda-beda. Sebagai manusia Cilacap, ini jawaban yang pernah saya dengar sendiri:

  • Oh Cilacap. Cilacap itu yang deket Nusakambangan, ya? Serem, dong. (biasa ja, sist … asal pas lagi ga ada air pasang utawa masalah napi-napian deng hmmm)
  • Cilacap? Wah, kamu pasti ngapak, ya! (ya kepriwe ya, ora tidokan ya)
  • Oh Cilacap. Cilacapnya mana? (cilacap… kota.. *jawabnya malu-malu*)
  • Cilacap itu… Jawa Barat, ya? ( ………….. )
  • Hmm? Cilacap? Di mana, ya? (yah, tadi ga saya bawa juga, sih, Cilacapnya…)

Kalau pertanyaan ketiga diikuti dengan kalimat “Saya juga punya kenalan orang Cilacap!” atau “Saya juga pernah tinggal di Cilacap, loh!”, biasanya obrolan akan berlanjut dengan, “Mbaknya sebelah mana Cilacapnya? Saya dulu dekat Terminal!”, atau “Dari Teluk Penyu deket ga?”, atau “Toko Rita masih ada?”.

Yah, begitu deh.

To make it clear first… No, Cilacap bukan Jawa Barat, Kakak.

Iya, Cilacap itu bukan Jawa Barat. Cilacap emang berbatasan sama Jawa Barat. Ada kecamatan-kecamatan yang berbahasa Sunda juga, sih, tapi sumpah, Cilacap di Jawa Tengah. Cek aja di RPUL atau tanya guru IPS wkwkwk.

AADC? (Alias, Ada Apa di Cilacap? *ga boleh protes, salah sendiri mbaca. wek.*)

Jangan dibayangin semacam Jogja, atau bahkan Purwokerto. Kenapa? Soalnya, katanya Cilacap mau jadi Singapore of Java. MUAHAHAHAA. Sangar, mbok? Ya iyalah. Mulane mangan mendoan.

IMG-20160717-WA0027.jpg
Ini baru mendoan, Mz, Mb.

 

Karena saya tinggalnya di Cilacap Tengah, saya ga bisa kalau disuruh ceritain di Sidareja ada apa, di Majenang ada apa aja, atau di kecamatan lain ada apa. Coba cek di blog orang lokalnya, siapa tau nulis post serupa sama saya (?).

Jadi, ini loh beberapa tempat yang sering saya inget soal Cilacap:

1. Tugu Gumilir

IMG-20160717-WA0021.jpg
Udah sampai Gumilir!

Atau, Tugu Lilin, atau Tugu Pertamina (ada logo Pertamina jadul di bawahnya, ga keliatan ya gapapa, ga dosa juga, sist). Terserah mau panggil apa, yang penting hatinya cocok dan ikhlas *apaan*. Saya pernah ribut rese sama temen gara-gara saya bilang ini Tugu Lilin tapi dia ga ngerti. Dikiranya ada lilin kue ulang taun beneran dijadiin tugu, kali. Huft.

Tugu ini letaknya di Gumilir *yaeyalah Li, zzzz*. Kalau lurus terus dari gapura yang fotonya tadi di atas, kamu bisa ketemu sama tugu ini. Tapi jangan maju-maju aja, liat dulu traffic light-nya merah apa ijo.

Terus, perhatiin sebelah kanan, dong. Ada tulisan Bangga Mbangun Desa. Tiap pulang merantau dan baca itu, rasanya adem banget sekaligus tertampar. What have you done for Cilacap, wahai warga-warga sekalian?

 

2. Blue Moon

IMG-20160717-WA0028.jpg
Itu, Blue Moon di kanan, semacam taman kecil di tengah jalan.

Atau…. Blumun. Ga tau alesannya apa kok namanya jadi Blumun, apalagi ternyata pake bahasa Inggris gitu tulisannya: Blue Moon. I mean, bulan biru? How come? ._.

Yang jelas, karena ini daerah perempatan, jadilah orang-orang tau tempat ini dengan nama Perempatan Blue Moon. Gaol abiz emang.

 

3. Toko Bima

tokobima
.. keliatan, kan?

Waktu pagi-pagi lewat abis subuh, toko ini belum buka (wkwkwk), jadi ambil fotonya pake Maps aja, deh.

Dulu, toko ini ga di sini. Yah, agak ke kanan dikit. Pindahnya ga jauh emang, tapi worth it. Di tempat yang lama, tokonya masih kecil. Susah kalau mau beli pensil; lawannya sama ibu-ibu beli ini-itu buat anaknya…

Iya! Toko Bima emang ibarat sumber energi dedek-dedek sekolahan di Cilacap tiap taun ajaran baru. Buku tulis gede atau kecil, yang buat huruf bersambung ataupun ga, pulpen item, merah, biru, atau ijo, pensil mekanik atau yang diraut…. semuanya ada. Buku-buku paket penerbit Ini dan Anu, penjualnya sampai hapal. Alkisah, bahkan penjualnya sampai ngerti sekolah X bakal pake buku terbitan mana. Dan benar! All hail, Toko Bima. Terima kasih atas buku-buku baru yang gambarnya unyu-unyu dan ganteng-ganteng (dulu sempet nge-hitz buku tulis gambar pemain bola, kan. HAHAHAHA).

 

4. Terminal

IMG-20160717-WA0019.jpg
Baru, loh. Haha.

Terminal biasa ja, kata orang-orang. Ya, kan, cuma tempat naik turun kalau mau pake bis, kan?

Iya, sih. Tapi tetep aja, orang-orang kalau mau nanya atau mendeskripsikan tempat, sering bilang, “Dari terminal ke mana, ya?”. Jadi ya tidak papalah Terminal masuk daftar ini. Baru direnovasi, loh. Saya baru masuk sekali sejak tulisan ini dibuat *penting*. Konon kabarnya, anak-anak gaul Cilacap (yang posting Instagram pake hashtag cilacaphitz, geto deh ya) lagi hobi masuk Terminal buat selfie, upload, dan nungguin jumlah Like bertambah. Terminal memang oke.

 

5. Damalang

IMG-20160717-WA0030.jpg

 

Ini perempatan sih. Namanya Damalang. Ya kan udah disebut di subjudul, kenapa saya nulis lagi?

Yang bikin Damalang teringat adalah karena di perempatan inilah muncul never-get-old-joke-nya orang-orang Cilacap. Di pinggir jalan, ada monumen PKK. Sekarang, warnanya biru. Dulu, apa ya? Bukan biru pokoknya.

Tapi intinya bukan warna juga, sih. Jadi, dulu, di sebelah kiri atas, ada patung NKKBS, di mana ada sebuah keluarga (ya patung sih) yang terdiri dari Bapak, Ibu, dan dua anaknya lagi gandengan. Orang-orang pun akan dengan semangatnya menceritakannya dengan cara: “Eh, eh, ada keluarga mau bunuh diri tau di Damalang! Mau terjun!” Biasanya, orang-orang yang kena jebakan adalah saudara yang datang dari luar Cilacap, temen yang lagi main ke Cilacap, atau orang Cilacap yang kurang gaul. Umumnya, joke tadi sangat berhasil membuat ibu-ibu ketawa…

Kelanjutan dari joke yang dulu beredar adalah: “Keluarga yang di atas itu beneran bunuh diri, sekarang udah ga ada…” dengan nada super sedih. Yah, beberapa orang memang merindukan kalian, wahai Patung Keluarga NKKBS.

 

6. Jalan S. Parman

IMG-20160717-WA0022.jpg

Jalannya lebar, mulus, enak buat bawa motor banter-banter. Kalau lewat sini pas malem Minggu, di kanan kiri jalan ini bakal ada barisan motor dari kelompok-kelompok anak muda dengan baju keren dan jaket kece. Di jalanan ini juga ada Martabak Alaska yang adalah tempat jualan martabak paling ternama di Cilacap. Di jalan ini juga muncul saingannya Alaska, alias Martabak 88.

Kenapa jadi sebut merk? Ya ga papa, martabak kan enak. Martabak telor, ya. Saya ga suka manis *terus kenapa*.

 

7. Teluk Penyu

 

IMG-20160717-WA0023.jpg
Masuk lewat sini.

Kalau mau masuk Teluk Penyu, yang seringkali terucap adalah, “Bayar ga, nih? Kan kita platnya plat Cilacap!”.

Dulu, semua kendaraan dan orang yang masuk disuruh bayar. Tapi kadang-kadang aja. Sering ga ada petugas, tapi tiba-tiba pas rame kayak jaman liburan, petugasnya muncul. Yang biasanya terjadi adalah motor-motor tiba-tiba pada ngebut waktu lewat situ, atau protes kalau di-stop, padahal motor depannya ga di-stop. Wkwkwk.

Tapi belakangan ini, ga ada petugasnya lagi. Mungkin capek ditolakin terus, ya? 😦

 

IMG-20160717-WA0024.jpgIMG-20160717-WA0015.jpgIMG-20160717-WA0005.jpgIMG-20160717-WA0012.jpg

Buat sebagian orang, Teluk Penyu mungkin biasa aja. Tapi buat saya, Teluk Penyu itu… ya biasa aja juga, sih *plak*. Tapi, setiap pulang Cilacap, saya suka sekali kalau ada waktu ke sini. Pantainya ga bersih-bersih amat. Di pinggir pantai banyak sampah, malah. Sedih banget. Kalau sore, rame. Ada yang main bola, lari-lari, hunting foto, pacaran, nyebrang ke Nusakambangan… Banyak. Tapi mau gimanapun, pantai ini pantai pertama saya. Saya inget saya sering main air di sini, soalnya… ini kan pantai *ga romantis banget alesannya*.

Dulu, saya suka ke Teluk Penyu naik sepeda. Kok kuat, ya? Heran juga. Sekarang lompat-lompat aja capek. Wkwkwk.

Di Teluk Penyu, tempat-tempat yang ramai biasanya dipakein istilah nama tertentu. Di ujung, ada semacam tanggul besar yang rame pengunjung. Namanya disebut trekdam. Di sisi lainnya yang agak jauh, ada tempat lain yang lebih bau ikan, dibilangnya ceker ayam. Ga tau kenapa. Pas saya ke sana padahal ga nemu ceker. Hmmm.

 

8. Benteng Pendem

IMG-20160717-WA0011.jpg

Ini tempat kesukaan saya juga. Dulu, benteng ini katanya letaknya tersembunyi, kependem gitu, makanya namanya Benteng Pendem. Ada benteng Belanda, ada juga jaman Jepang. Tempatnya sepi kalau hari biasa. Kadang di dalemnya ada rusa yang lagi makan rumput. Tapi, terakhir ke sana kok ga ada rusanya, ya?

Masuk ke sini sih pokoknya belajar sejarah. Boleh milih mau pake guide atau ga. Tapi kalau sama saya, ya saya aja yang jadi guide kamu, lah *terekdungces*.

 

9. Toko Rita

IMG-20160717-WA0014.jpg
Itu kiri atas plangnya :p

damalang

Yang dimaksud dengan Toko Rita adalah Rita Pasaraya; pasaraya pertama di Cilacap dan masih paling populer kalau dibandingin sama Cilacap Plaza (dulunya Barata). Isinya macem-macem: sembako, baju, buku. Oh iya, yang penting: ga ada bioskop. Huhuhu. Tapi ya udah, yang penting sekarang udah ada eskalatornya wkwkwk.

 

10. Tugu Nelayan dan Alun-alun

IMG-20160717-WA0013.jpg
Alun-alunnya di belakang tugu situ.

Hampir sama kayak monumen PKK, Tugu Nelayan ini mungkin bakal jadi another never-get-old-joke di Cilacap. Ada orang yang dengan garingnya bilang ke saya, “Kasihan, ada nelayan panasan sampai kulitnya gosong.” Serta merta saya kaget dan nanya lebih lanjut, tapi ternyata ditunjukkin si tugu ini. Asem.

Biasanya, kalau malam Minggu rame banget di sini. Sekarang malah ada car free night tiap malam Minggu. Jadi, mobil-mobil ga bisa lewat alun-alun. Chu banget kan, bukan car free day, tapi car free night. Hehehe.


 

Masih banyak sih tempat yang muncul di kepala saya kalau ingat Cilacap. Tapi masa saya cerita terus? Nanti kamu kapan ke Cilacapnya, dong? Eaaa.

Baiklah. Demikian saja. Kalau kangen Cilacap, pulanglah dengan segera. Kalau mau kenal Cilacap, datanglah cepat-cepat.

Ditungguin mendoan panas pake cabe.

 

 

Anak Cilacap,

Aprilia

3 comments

  1. Hahahaha lia..
    1. Dulu ada job nyanyi natal pertamina sama anak anak padusku dari kampus, kita sebis dateng ke cilacap. Perjalanan mau ke penginapan, penginapannya di blumun anyway wkwk, aku bilang ke temen2 eh kita udah sampe nih bentar lagi, udah mau deket patung lilin. Sebis langsung ‘gilaaa di cilacap ada patung lilin’. Sejenak cilacap terdengar keren kayak hongkong. Patung lilin = wax figure madam tussauds 😅

    2. Toko bima wkwkwkwkwkwk. Entah kenapa aku pergi ke selecta dulu terus baru ke bima. Tapi emang sih bima itu legend banget, gila. Enaknya bima dibanding selecta tuh, kalo bima dikasih sampul plastik gratis. Ahahahahahha.

    Itu sih 2 tempat yang pengen aku komenin wkwk. Thanks lee jadi flashback nih haha.

    Like

    • Hahahaha iya ses patung lilin sounds cool!!! Dan bima emang legend. Ada selecta sih emang, tapi yg selalu paling rame bima ga sih. Hahaha. Aku malah biasanya ke bima dulu baru ke selecta, krn rumahku deketan lewat bima. Wkwk.

      Haha terimakasih kembali moses hehehe xD

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s