You Shouldn’t Read This, but if You Insist… It’s Your Choice.

Kalau Matahari itu penerang, maka ia tidak diharapkan padam. Seperti harapan manusia yang girang, tak ada imaji asanya meredam.


Aku dilahirkan di sudut kota, tempat di mana kamu belum menghirup udara yang sama. Aku dibesarkan di kastilku sendiri, tempat di mana tak ada celah kita berjumpa. Lalu, aku pun bergerak dalam lingkaranku saja, tempat di mana aku dan kamu tak pernah benar-benar bercanda.

Suatu ketika hatiku sepi. Tanpa sedu, kamu permisi untuk menepi.

hold

Sejak genggaman pertama, semua orang melihat aku dan kamu.

… yang kupikir menjadi “kita”.


Cerita berjalan seperti kereta. Kemesraan yang tertata. Sekali-kali rasanya berguncang, tapi cepat kutarik kencang-kencang.

Pernah sekali-kali aku ingin turun saja, berlarian tanpa kamu yang hanya kadang ada. Aku pun yakin, kamu ingin melompat ke sisi lainnya, mengejar cerita yang lebih berjaya.

Aku tertawa ketika menangis, aku menangis saat tertawa. Leluconmu dan sikapmu yang biasa, entah mana yang lebih terasa: lega atau tega. Tapi atas nama rasa manis yang juga aku simpan, aku tidak keberatan bertahan. Memiliki kamu adalah bahagia, diselingi sendu dan kecewa, yang bodohnya, hanya bisa mengendap dan bersisa.

Ada masanya bicara, tapi suaraku tak menjangkaumu yang terbuai ceria. Ada sakit yang dirasa, tapi mataku tak terbaca kamu yang tertawa. Ini bukan salahmu, juga bukan salahku.

Salah “kita”, yang selalu aku dan kamu anggap untuk ada.

emoji

Sudah kubaca sederet kata yang kamu kirim. Ada rasa marah dan kecewa yang bercampur, aku mengerti. Mataku berair pun tak peduli. Sekali sebentar saja rasanya ingin bicara lagi.

Tapi kemudian aku ingat,

Aku sudah bicara. Kamu sudah tahu alasannya. Hanya karena kebetulan ada angin besar di sebelahku, bukan berarti itu alasanku memilih terbang. Hanya karena ada yang berjalan teratur ke arahku, bukan berarti aku melarikan diri dengan terburu.

Nyatanya, kamu dan aku sama-sama telah membangun pusaran tornado selama ini.

Jadi, terima kasih atas semua kata-katamu: yang melegakan, ataupun yang sampai hati dikeluhkan dengan hinaan. Terima kasih atas semua cerita yang disebar sampai ke banyak jiwa; yang tidak mengenalku, dan ikut menilaiku secara mendadak. Terima kasih atas abaian alasanku yang sebenarnya sudah kamu tahu, lalu memilih menekankannya pada sesuatu yang tidak kamu ketahui pasti, untuk dikabarkan ke seluruh mata yang memandangmu.

Ketahuilah, kamu pasti bahagia.

Dan aku? Aku akan berbahagia tanpa henti, tenang saja 🙂

 

Tapi, terima kasih sudah repot-repot mendoakanku atas karma, dan atas teman-teman yang sekilas saja langsung mendukung penghukumanmu untukku.

 

 

Surrounded by positive people already,

(writing this as a sign of creating a peaceful state with my mind)

Aprilia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s