Cinta dan Bagaimana.

19:47.

Aku pasti sudah gila, memilih diam atas kedipan layar ponsel mengajak bicara dan berbincang. Kudiamkan entah siapa saja yang sedari tadi memanggil, bertanya jam berapa malam ini aku akan pulang.

Dunia, dengarkan dulu.

Aku sendirian.

Berbulan ini rasaku bergejolak. Itu saja.

Usiaku meninggi, tapi ilmuku masih serendah ombak yang menepi di pantai paling tepi.


 

Malam hari, Jogja, 20:05.

Dari kursiku duduk, jalanan terlihat. Bapak tua mendorong sepeda. Pulang, kurasa. Ibu-ibu penjual nasi lele menunggu pelanggan, dilewati sepeda motor yang pengemudinya ingin membeli seikat bunga.

Aku duduk di antara asap rokok.

kskdjksjd

Coba saja kalau mereka lihat, yakinlah aku sebentar kemudian aku akan diminta pulang tanpa ampun. Coba saja kalau mereka lihat, jam berapa ini saat aku menghirup udara luar? Yakinlah aku sebentar saja akan ditegur menderu.

Tapi, Dunia, tolong dengarkan.

Ternyata tidak seburuk itu, kan? Ada banyak hal yang tahu-tahu memberimu ketenangan saat kamu justru tidak menduganya.

Jadi, aku masih duduk di antara asap rokok.

Tidak, aku tidak memainkan lintingan putih itu di bibirku. Aku tidak bermain api di depan mataku. Tapi kali itu, aku hanya tidak terbatuk keras-keras.

Seseorang menyarankanku memilih susu vanilla dalam menu. Aku tidak lapar, tidak haus. Aku hanya ingin menangis sebisanya, mendapat penjelasan atas apa yang sebenarnya aku rasakan setelah berbulan memutuskan “menjadi dewasa” dengan caraku sendiri.

Tapi akhirnya, aku memesannya.

Susu vanilla, maksudku. Atas saran seseorang yang duduk di sebelah kananku.

milk



Masih Jogja, malam hari, 20:16

“She’s a big fan of AADC; the first movie and the second one. We’ve watched the movies 49 times, I guess. She knows every single dialogue!”

Tertawa.

Aku tidak tahu kenapa pembicaraan tiba-tiba berhenti pada Cinta dan Rangga. Seseorang memulai berkata akan kisah cinta yang nyatanya hingga saat ini membekas untuk aku tulis.

“If you were her, who would you choose?”

Tentu saja dia bertanya. Kalau kamu tidak tahu, biar kuceritakan dengan singkat. Di AADC 2, Cinta sudah berencana menikah dengan Trian, ketika dengan mendadaknya Rangga muncul. Perasaan paling kejam di dunia adalah ketika kenanganmu berkonspirasi dengan dunia, lalu mengikatmu mundur ke belakang untuk sekali lagi berjalan bersama-sama.

Ya, Cinta lebih memilih Rangga dibandingkan Trian yang sudah jauh mapan secara finansial. And he loved Cinta, for sure.

“Kalau pakai logika, kamu pilih siapa?” Orang itu bertanya lagi. Matanya menembus mataku. Aku mengangkat bahu dan menjawab, “Kalau logika… Then it should be Trian.”

Dunia, lalu dimulailah. Pembicaraan yang paling membuatku ingin merekam setiap jengkal kata-katanya.

ptr

Dia mengangguk menyetujui. Logika–katanya–adalah sesuatu yang tidak akan memunculkan konflik manapun dalam film AADC. Cinta memilih Rangga?

Tidak logis.

Seperti katanya kemudian,

“AADC 2, kalau kita bisa lihat, benar-benar bicara tentang cinta yang dewasa.”

Maaf, tapi sebelumnya aku hanya memandang AADC 2 sebagai penyelesaian yang dipaksakan atas serial pertamanya yang melegenda. Atas serial pertamanya yang tidak berakhir lurus dan sempurna. Atas serial pertamanya yang meminta semua orang menunggu satu purnama (turns out jadinya beberapa purnama) .

Tapi malam itu, aku mendapat sisi baru.

 


Cinta tidak mengenal logika.

Setidaknya itu yang dikatakan selusinan orang kalau kamu ingin tahu. Mungkin puluhan, bahkan ratusan. Saat kamu jatuh cinta, kamu tidak akan berpikir panjang. Sering kali kamu tidak mengerti: kenapa?

Aku juga sama.

love

“Cinta yang dewasa benar-benar cinta yang dipilih hati. Sekalipun ada yang lain, yet while it doesn’t fit you… it just won’t work. Sekalipun ada yang terlihat sangat tidak sempurna, if it fits you… it will work.

It’s your heart making the choice.”

Tertampar.

Lalu aku, yang sedang duduk di antara asap rokok, seperti tertarik pusaran ego. Semua orang sudah lelah mendengarnya, tapi hatiku ingin terus mengais anggukan. Padahal, cinta hanyalah persoalan antara si pemilik perasaan dan kepada siapa rasanya diserahkan.

Perasaanku, dan alasanku, tak perlu diketahui mereka sedetail itu.

Mereka tidak akan mengerti.


 

September 2016.

Betapa sudah berjalannya waktu sejak malam itu.

Aku sudah duduk tenang di ruangan tanpa asap rokok, tapi baru saja rasanya seperti dijejali apapun yang memanas.

Kalau kamu memilih seseorang pada akhirnya, apakah seseorang itu akan memilihmu sebesar rasa yang kamu punya?

PR. Perasaan adalah misteri paling rumit dunia.

Semoga kamu menemukan langkah paling baik pada cinta yang paling membahagiakanmu.

Paling membahagiakanmu.

robot

 

 

 

Editor yang Lagi Pause Ngedit Demi Ngeblog,

Aprilia, 24 tahun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s