Kepada Dirimu Sendiri

#Pertama1

Aku pernah sakit perut tiga lapis.

Maag, PMS, diare.

Rasanya menyebalkan dan ingin marah. Rasanya cukup melelahkan harus berjalan ke sana kemari, mencoba minum ini atau itu, demi sebentar saja menghentikan keluhan. Rasanya berat dan melelahkan.

Tapi, untuk pertama kalinya, sakitku berujung perasaan berdebar ketika tahu-tahu ada yang datang.

p_20160802_163128
You’ll never know how lovely it can be to drink a milk!

Bersama dengan senyum sore yang datang mendadak, disodorkannya pula roti kismis. Aku, padahal, tidak pernah menyukai kismis. Dia belum tahu–aku belum pernah bilang–tapi kurasa ini super menyenangkan!

Dan, benar saja, demi sakit yang menangis dan rasa gembira atas kedatangan seseorang, rotinya habis.

Benar, aku memakan roti kismis.

kismis
Karena abis, jadi ga kefoto. Ilustrasi ini diambil dari cookpad.com.

Dan, coba tebak? Rasanya tidak seburuk itu.

That was my first time, but it was actually quite good!


 

#Pertama2

Jarak terjauhku pergi bermain mungkin hanya sepelemparan kelereng bagi orang lain.

Aku tinggal sendirian sekarang, di kota impianku, sejak 5 tahun lalu. Tidak sekalipun bepergian jauh karena jarak. Tidak mengerti arah karena diam. Tidak melonjak pergi karena dering telepon dari mereka di rumah kami yang tidak lelah memintaku untuk “ga usah pergi jauh-jauh, ga usah main kejauhan”.

Seseorang berkata, “Kapan-kapan kuajak kamu ke pantai.”

Hingga bertahun-tahun kemudian, words are words. Tidak ada perjalanan ke pantai, mendekati saja tidak. Aku dikurung ego atas bayangan pantai paling menyenangkan: hanya Teluk Penyu saja yang aku senangi.

Sampai suatu hari…

p_20160903_121801
I saw this before my eyes…
img_0169
…and it was such a nice escape.

Seluas itu air laut.

Pantai yang sama sekali berbeda. Pantai tanpa deretan kapal nelayan yang penuh dan pemecah ombak yang berurutan. Pantai tanpa bapak-bapak tua menawari menyeberang pulau, atau sekadar berjualan mendoan panas.

Dan, coba tebak? Rasanya menyenangkan bersentuhan air pantai selain Pantai Teluk Penyu.

That was my first time, but it was TOTALLY good!


 

 

#Pertama3

“Kalau tidak merasa aman, mundur saja.” Selalu begitu bagiku. Takut? Tidak jadi maju. Malu? Tidak usah ke sana.

Sedatar itu? Ya.

“Kalau malu ya ga usah dateng. Kalau ga, ya silakan.”

Kalimat biasa, sebenarnya. Padahal, sejak tengah hari aku sudah mengangguk akan datang ke suatu tempat. Tapi ketika waktunya tiba, tahu-tahu “malu” itu menyerangku lagi, berlutut-lutut menahan mauku pergi.

Kalimat biasa yang dikirimkan seseorang itu aku baca berulang-ulang. Mungkin nadanya santai, mungkin sedikit sebal, aku tidak tahu, Detik itu yang aku rasa hanya: I did say I would go.

A woman and her words adalah sesuatu yang semestinya berkesinambungan.

Jadi malam itu, setelah susah payah menelan bulat-bulat ketakutan tidak jelas karena sebelumnya tidak pernah datang, aku merasakan setumpuk rasa ingin membalas perasaan bahagia pada seseorang.

Segera, aku dan motorku melaju.

img-20160903-wa0024
Lalu, berhenti di luar kotak hijau.

Walaupun masih dengan sindrom panik yang sama, kebingungan harus bagaimana, dan perasaan tidak aman…

aku berhasil duduk dengan selamat di bangku tepi.

Dan, coba tebak? Rasanya cukup seru mendengar suara bola yang dihantam keras dengan kaki, lalu diikuti seruan instruksi ketika semua pemain berlari ke tengah.

Rasanya cukup seru, membaca buku sekaligus melihatnya.

That was my first time, but it was pretty cool!


 

Atas banyak hal yang sudah datang, coba sebentar kamu duduk dan berpikir.

Sebelum detik ini, sebelum hari ini, kamu pasti menemukan banyak “pertama” yang harus kamu lewati dulu. Mungkin sedikit aneh dan tidak familiar–pasti.

Yet, when you finally did it, it felt good.

I’m not going to teach you as I’m not an expert. 

Just do it: the thing you never do. Trust the magic of beginning.


 

PS: Seseorang pernah bilang, “Ngapain? Ga usah,” sementara orang lainnya bilang, “Dicoba, ya.” Those 2 kinds of persons give totally different effects. Choose your people wisely.

 

 

Terima kasih, Lia!

Aprilia, sedang-berjuang-melek-biar-ga-kesiangan-ngantor.

 

 

 

Advertisement

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s