Mirip Ayah.

Tadi malam, kamu hendak duduk di hadapanku, tapi tiba-tiba aku teringat ayahku.

Mendadak, aku melihat bayangan ayahku pada kamu.

Sedetik kemudian aku tahu, aku akan baik-baik saja berada di sini.

Dengan kamu.


Ada yang bilang, seorang wanita cenderung memilih laki-laki yang mirip ayahnya, entah fisik ataupun kepribadiannya. Dulu, kupikir itu lelucon romansa yang biasa dan asal saja. Maksudku; masa ada seorang lelaki yang asing sekali dan malah mirip ayah? Kidding me!

Kuberitahu sesuatu.

Ayahku bekerja dengan giatnya. Memarahiku dalam diamnya. Menggodaku dengan candaan paling receh di dunia. Artis seni peran kecil-kecilan di kala muda. Menghiburku tanpa jemunya. Menjadi sandaran ketika aku disuntik dokter demi sehatku. Memijat kepalaku waktu aku menangis karena seisi rumah berputar cepat-cepat. Memegangi boncengan sepedaku sambil menunduk setelah roda tambahannya dilepas. Mencemburui lelaki mana saja yang aku sebut namanya. Menemaniku masuk ke kolam renang dan tepi ombak. Memakan habis masakanku sekalipun rasanya hambar. Mengajakku menontonnya berlatih bulutangkis setiap kali. Memintaku membuatkannya kopi. Mengizinkanku menggunakan sandalnya. Memasukkan fotoku di dompetnya sedari dulu. Berkendara berjam-jam demi menemuiku. Memberiku nasihat tentang doa yang seharusnya aku ucapkan. Meyakinkanku bahwa aku bisa mengerti Matematika. Menegurku kalau kelepasan tak berkerudung. Mendengarkanku jika akhirnya aku berani bercerita hal yang kuanggap penting padanya.

Ayahku melakukan segalanya untukku.

child-355176_1920


Aku tidak bilang kasih sayangmu wajib berlimpah ruah sekarang, melebihi kasih sayang pada keluargamu. Aku tidak mengharuskanmu menjadikanku satu-satunya ratu sekarang, karena aku tahu kamu masih punya ratu dengan nama Ibu.

Tapi caramu bersikap? Menyenangkan.

Ya, seperti ayah.

Lebih dari sekelebat senyum dengan gigi yang sama-sama patah. Candaan-candaan garing yang renyah. Cara berbicara dan mengajari. Penjagaan yang diam-diam. Serius mengerjakan hal di depan mata. Berbicara dengan banyak orang. Menjadi alasan teman-temanmu tertawa. Menuntunku ke mana harus berjalan. Bergerak melucu dengan spontan dan sesukamu. Memintaku duduk di pinggir lapangan futsal. Memperkenalkanku sebagai bagian dari hidupmu sekalipun aku tidak berpakaian menarik seperti gadis kekinian. Mendorongku untuk bergerak bahkan pada hal yang belum pernah kulakukan. Menerima pukulan balasanku yang melenceng saat bermain bulutangkis tingkat dasar. Memercayaiku atas banyak sekali hal. Mengelus pundakku kalau ingin menangis. Sabar yang selalu mau diberikan. Memimpin solat Maghrib. Menggeleng tak setuju saat jilbabku terlalu pendek. Mengomentari alergi dinginku saat tanganku sibuk menggaruk. Mengingatkanku atas jaket. Memintaku untuk menjadi sedikit lebih rapi. Bercerita tentang rencanamu.

Menjadikanku bagian dari rencanamu.

couple-1210023_960_720


Memang, ayahku tidak tergantikan. Selamanya, dia adalah laki-laki yang pertama kali membuatku merasakan tenang dan nyaman seluruh semesta.

Tapi tiba-tiba, sang semesta ini membawa kamu.

Menghadirkan kamu.

Untuk pertama kalinya aku tahu, kalaulah definisi “mirip” itu lebih dari sekadar penampilan, maka kamulah yang dijelaskan.

Sederhananya, aku melihat bayangan ayahku pada kamu.

Dan tetap saja aku merasa, aku akan baik-baik saja berada di sini.

Dengan kamu.

 

 

 

Masih terpukau pada takdir kita sejak berbulan lalu,

Aprilia, 24 tahun sekian minggu.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s