Namanya Cather, Datang dari London

britain-2938_1920

London masih indah, Em. Kau tahu aku menyukainya. Maksudku, ada berapa banyak Big Ben di dunia, sih? Atau pangeran-pangeran ganteng?

            Yah pokoknya, waktu itu kami ke Trafalgar Square. Dia kaget waktu kubilang tempat itu dibangun untuk mengenang Lord Nelson di Pertempuran Trafalgar. Setelah dia melihat langsung patung Lord Nelson di tengah, dia baru percaya. Mungkin sekitar 2 jam kami di sana. Dia bertanya apakah Trafalgar Square pernah dipakai untuk serial ini dan itu. Berpikir tentang serial, aku teringat kita bermalam di sana demi premiere film Harry Potter!

            Oh ya, Fourth Plinth-nya tidak kosong. Kau tahu, alas patung sisi Barat Laut Trafalgar? Saat kami ke sana, ada patung “The Gift Horse”. Untung aku sudah membaca berita. Jadi, saat dia bertanya maksudnya, aku bisa menjelaskan. Tidak susah, kok. Pada dasarnya aku hanya bilang patung kuda tanpa penunggang itu dibuat sebagai penghargaan untuk ekonom Adam Smith dan pelukis George Stubbs. Selesai.

            Omong-omong, hari itu ramai. Dia bilang dia agak terganggu. Sungguh manja, menyebalkan. Jadi, aku mengalihkan perhatiannya dan mengajaknya ke Westminster. Harus sabar. Tidak boleh menendang.

Rute yang kuambil seperti yang biasa kita lakukan: dari Whitehall Trafalgar Square, naik bus 159 ke arah Streatham. Lalu, kami turun di Westminster, sebelum berjalan kaki sedikit. Kau tahu? Dia belum pernah ke sana! Saat kami sampai, dia terpukau. Astaga. Harusnya kuajak dia dari kemarin saja.

            Oh, tempatmu masih cemerlang, Em. Big Ben-mu. Masih kokoh. Masih menjulang. Masih memesona. Kau bisa melihatnya sendiri. Aku mengambil fotonya untukmu—foto Big Ben. Maaf, aku tidak ikut berfoto.

            Well, dia bertanya mengenai Palace of Westminster, dan sebenarnya aku tidak begitu yakin. Aku hanya memberinya informasi umum—kau tahu, informasi mengenai fungsinya (kediaman parlemen Inggris selama lebih dari 900 tahun, kan?), dan tentang kebakaran 16 Oktober 1834. Dia dengan seksama mendengarkan, terutama soal kebakaran. Mungkin dia suka api. Atau apapun yang panas-panas. Sebaiknya kapan-kapan kuajak dia makan ravioli ricotta panas di Borough Market.

            Dia juga bertanya tentang Big Ben, “Kenapa namanya Big Ben?” Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Sedari awal, benda itu akan dinamai Victoria, untuk mengenang Queen Victoria. Tapi, warga London menyebutnya sebagai Big Ben. Mungkin itulah kehebatan mereka memberi nama panggilan, huh?

            Setelah itu, dia memutuskan ingin melihat London Eye. Kami tak perlu waktu lama untuk ke sana. Kau pasti ingat jaraknya—10 menit kalau berjalan santai, 7 menit kalau bergegas, dan 5 menit kalau berlari. Setelah itu—voila!—sampai di London Eye yang memesona.

            Tiga setengah juta orang datang setiap tahun ke London Eye, mengantre untuk menjadi salah satu dari 800 orang di atasnya. Alih-alih mengajakku naik, dia malah bertanya lagi. Serius nih, untung aku lumayan cerdas: aku bisa menjelaskan jumlah kapsul di London Eye (“32 kapsul, Sir.”). Tapi sayangnya, aku lupa memberitahunya kalau tidak ada kapsul nomor 13 di London Eye. Kurasa untuk keberuntungan—tidakkah begitu?

            Begitulah, Em, London masih indah. Bahkan sebagai tour guide, aku masih terpikat London. Dan dia—klienku dari Spanyol—berkata akan meneleponku. Meneleponku! Kemungkinan kencan? Hahaha!

            Menunggu kabarmu. Cepatlah kembali!

 

Merindukanmu,

-Cather-

***

            Emma tertawa saat menutup amplop raksasanya. Barusan ia membaca surat dari sahabatnya, Catherine Shrigley/Cath/Cather. Biasanya Cath marah kalau dipanggil Cather. Tapi, fakta bahwa Cath menulis namanya sendiri sebagai “Cather” berarti bahwa Cath tidak keberatan mendengar Emma menyebutnya begitu asalkan mereka bertemu.

Emma dulu tinggal bersama Cath. Sampai pada suatu hari, Emma, si penulis buku ternama, harus memulai jadwal tour bedah bukunya ke seluruh Inggris Raya selama 2 bulan. Cath kesepian, tapi ia mendukung Emma sepenuh hati.

Emma terkikik mengingat bulan lalu Cath memberinya kabar melalui telepon. Siapa sangka ternyata Cath menelepon sambil menyelam—ia ingin mencoba pembungkus ponsel anti-air yang ia beli di situs online. Cath memang penuh kejutan. Dalam hati, Emma memutuskan tak akan pernah bertanya pada Cath, kapan ia akan memberinya kabar dengan cara yang normalkau tahu, hal-hal semacam e-mail atau telepon (di darat).

Emma menatap suratnya lagi. Surat ini diantar seseorang dengan kostum burung hantu yang mengaku dibayar oleh Cath. Dari London. Plus, surat ini membawa kira-kira 25 foto Big Ben dari sudut yang berbeda. Terpukau, Emma mengambil ponselnya. Ia memutar nomor Cath. Karena Emma adalah tipe kutu buku membosankan, jadi ia selalu membalas kejutan Cath dengan telepon. Telepon biasa. Di daratan.

            “Hey,” kata Emma, “suratnya sampai. Trims. Kau awesome.”

“Aku tidak suka kata ‘awesome’. Kau membuatku merasa seperti tokoh game online,” sahut Cath.

Emma terkikik. Cath juga. Sisa telepon mereka habiskan dengan tawa dan gosip—dan juga mengenang London yang ditinggalkan Emma selama 2 bulan. Sungguh sore yang nostalgic lewat percakapan telepon ke London!

***



Saya suka sekali menulis sejak umur 9 tahun.

Pembaca pertama saya adalah teman sekelas saya yang suka membuat komik strip di balik buku tulisnya. Kami diam-diam bertukar cerita untuk saling dibaca dan dikomentari. Kadang-kadang, saya juga membenarkan spell kata-kata yang dia pakai dalam komik *lah ternyata ke-rese-an ngeditnya udah dari SD*

kids-1093758_1920

Saya suka sekali menulis sejak umur 9 tahun. Di usia yang sama, saya mulai membaca Harry Potter dan mulai kecanduan serialnya. Saya jadi tertarik pada setting cerita: England.

London adalah kota pertama yang saya tahu dari UK. Penulis dan cerita Harry Potter juga berasal dari UK sana. Hal-hal berbau British mendadak jadi sesuatu yang saya suka.

Suatu hari, ada lomba menulis cerpen dengan hadiah perjalanan wisata ke London.

Saya pasti gila kalau sampe ga ikutan. Serta merta saya putar otak untuk menulis cerita berbau London yang kental. Saya tidak biasa membiarkan cerpen saya dibaca orang lain, so it was kinda hard for me karena saya juga perlu tahu apakah cerpen saya menarik. Sialnya, cerpen yang diikutkan dalam kompetisi harus di-share ke media sosial. Alhasil, malu-malu, saya share di Fb dan Twitter saya.

Tapi memang, saya kalah.

Nama saya bahkan ga sedikit pun muncul di daftar pemenang harapan. Saya kecewa? Jelas. London. Big Ben. London Eye. Mimpi saya.

Saya hapus cerpen saya karena saya keburu minder. Pujian teman-teman rasanya seperti beban; sekali lagi saya belum bisa bikin orang bangga kenal sama saya. Tapi, lebih jauh dari itu, sebenarnya saya masih ingin Cather (tokoh dalam cerita saya) dapat kesempatan yang layak untuk dinikmati banyak orang sebagai bentuk seni tulisan.

Ya, saya jatuh cinta pada Cather. Bukan berarti ini aneh, karena tokoh Cather adalah wanita. Tapi sebenarnya, apa yang Cather lakukan adalah apa yang selalu ingin saya lakukan.

Dulu, saya bercita-cita menjadi tour guide. Saya selalu membayangkan apa yang akan saya lakukan kalau belajar soal Pariwisata. Saya suka bercerita soal suatu tempat yang saya ketahui ke orang terdekat saya. Bahkan, saya ingat, saya kegirangan setengah mati waktu kelas Speaking di kampus saya meminta murid-muridnya berakting sebagai tour guide di kelas.

Cather has it all. She speaks English, she lives in London, and she guides people on their tours! Plus, Cather is a bit weird. Orang macam apa yang meminta orang lain mengirimkan suratnya dengan kostum owl?

Well… that is, actually, something I always wanna do.

double-decker-bus-349917_1920

Karena hal itulah (keinginan agar Cather-saya tidak tersimpan sia-sia), saya pun sibuk scroll lagi pengumuman lomba nulis sembari ngurus skripsi (iya, masih jadi mahasiswa akhir waktu itu). Singkat cerita, ada jalan yang lain. Sampai akhirnya, “si Cather” ini bisa saya modifikasi dan ikutkan di kompetisi menulis lainnya, lalu berhasil ikut diterbitkan dalam antologi cerpen soal kota-kota dunia lainnya.

town-sweet-town
PS: Cerpen di atas adalah salah satu cerpen dalam antologi cerpen “Town Sweet Town” volume 1, dari Penerbit Ellunar

Saya memang tidak dapat hadiah pergi ke London, tapi saat saya menulisnya, saya jadi tahu lebih detail soal London.

Dan, saya bisa “mewujudkan” mimpi-mimpi yang saya punya dan simpan diam-diam, lewat tokoh yang saya buat di sana.

Itu, menurut saya, jadi pengalaman yang mengesankan.

Menulis itu menyenangkan, singkatnya. Sesederhana apapun tulisanmu.

 

 

 

Udah lama ga nulis fiksi,

Aprilia.

 

 

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s