Tokoh Utamanya adalah Kamu

Pagi hari, setelah ramai.

Anggap saja tokoh utama cerita ini adalah kamu–yang berdebar-debar sejak pagi dan bertanya-tanya: pakaian mana yang sebaiknya kamu gunakan? Warna merah mungkin terlalu berani, sementara biru tua akan terlalu gelap. Setelah banyak pertimbangan, kamu mulai membuka pintu rumah dan berangkat dalam warna salem,

whatsapp-image-2017-02-19-at-17-02-24

….bersama seseorang yang datang dan tersenyum lebar-lebar.

 

Kamu lapar, tapi kamu tidak bisa makan.

Rasanya terlalu menegangkan, padahal kamu antusias pada waktu bersamaan. .

Kamu ingin bicara banyak, tapi kamu hanya bisa diam saja.

Rasanya seperti terkunci, padahal dalam hati ada yang meluap-luap. Apa yang nanti akan terjadi? Apakah pakaianmu sudah benar? Apa yang harus kamu lakukan? Bagaimana caramu bicara nantinya? Mendadak, kamu mengevaluasi sikapmu keras-keras. Bagaimanapun, akan konyol kalau kamu tiba-tiba minta berputar arah.

Maka hari itu, dari balik bahu yang selalu kamu andalkan, kamu memutuskan untuk berani dan maju.


We met at the strangest time of my life.

Entah bagaimana caranya, kamu teringat kalimat itu. Mungkin karena senyumnya. Mungkin juga karena ia dengan menyebalkannya tertidur kala kamu baru selesai berbenah. Atau mungkin, karena kamu hampir jatuh terpeleset lumpur, tapi ia sudah siaga mengulurkan tangannya.

Aneh sekali, hari itu kamu berjalan di atas batu tanpa mengaduh terlalu sering. Ah, tidak, kamu tetap kesakitan, hanya saja rasanya puluhan kali lebih menenangkan. Jalanannya tidak rata, sesekali tumitmu kelelahan, atau telapakmu berkeringat.

Aneh sekali, kamu merasa baik-baik saja,

whatsapp-image-2017-02-19-at-17-02-24-1

…sampai kamu duduk diam di atas batu dan melihat surga berwarna hijau.


Kadang, kamu bertanya-tanya, bagaimana sebuah film memiliki alur yang indah?

Tanpa kamu sadar, dalam hidup yang tokoh utamanya adalah kamu, alur yang diberi-Nya juga luar biasa.

Sekali-kali kamu berpikir: bagaimana bisa kamu yang dibaluri selimut tebal dan suka menangis ini pada akhirnya bertemu seseorang yang berada ratusan kilometer jaraknya–yang tak keberatan berjalan memanggul rumput? Bagaimana kamu kepanasan dalam kotamu, berbangga pada pantainya, tapi kembali merasakan teduh dan dingin di tempat yang disukai pohon–yang jauh dari halaman depan pagar rumahmu?

Tempat hijau itu, pikirmu, padahal dua tahun lalu kamu mungkin sudah dekat padanya, tapi dari sisi yang sedikit berbeda. Siapa sangka, hari itu kamu akan kembali dan merasa “pulang”?

whatsapp-image-2017-02-19-at-17-02-25-1
Mungkin karena beberapa hal datang pada waktu tak terduga, lalu malah menjadi bagian paling penting dalam hidupmu.

Hari itu, kamu mengerti.

Bahwa hidup tidak selalu semudah yang kamu punya. Bahwa hidup tidak selalu tentang apa yang kamu minta dan dapatkan layaknya anak manja. Bahwa angin dingin bisa datang dari mana saja, sekalipun kamu sudah memakai jaket dan menutup pintu. Bahwa bertemu orang baru tidak menakutkan. Bahwa tidak apa-apa menjadi diri sendiri.

Bahwa tidak apa-apa memilih apa yang kamu mau.

Tidak apa-apa membuat keputusan.

Bahwa menyenangkan rasanya, untuk kembali “pulang”, dan merasa benar-benar diinginkan kali ini.

 

 

Menyenangkan.

Bahkan, sampai senja datang dan melengkapi kegembiraan hari itu.

whatsapp-image-2017-02-19-at-17-02-24-2


 

 

 

 

Gamping – Samigaluh – Gamping

15 Februari 2017

Kamu, si tokoh utama.

3 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s