Bau Durian

Kata ibu, dia makan banyak daging buah durian waktu saya masih di perutnya. Aroma buah ini menjadi candu, seperti juga keinginannya yang mendadak pada kepiting segar untuk diolah.

Bertahun setelah saya dilahirkan, kepiting masih menjadi menu yang bisa ditolerir sepenuh hati. Saya tidak akan menolak duduk dan ikut menyantapnya, sekalipun saya harus berusaha sedikit keras demi daging putih yang lembut. Tapi anehnya, durian seperti musuh.

Ibu saya masih menyukai durian, seperti ayah saya, apalagi kakak dan adik saya. Mereka tidak keberatan semalaman dikelilingi bau durian, mengecapnya dalam-dalam di lidah, lalu mencuci tangan dengan air yang ditaruh dalam kulit buah. Pada saat bersamaan, saya sedang mengunci diri saya di kamar, sambil sedikit mengeluh dan meneruskan membaca buku apapun yang bisa saya jangkau.

Bau durian–bau yang membuat saya seketika berlari, kalau bisa.

durian_2
http://www.forgotteninvasion.com

Selama kurang lebih 6 tahun merantau di Jogja, setidaknya ada dua area yang membuat diri saya bersiap-siap menghadapi bau durian  tiba-tiba: Jalan Colombo (depan GOR UNY) dan Jalan Magelang. Muka saya berubah kecut, kata teman saya, setiap kali berusaha mencegah baunya terdeteksi hidung, Beberapa teman dengan isengnya menertawakan gerak reflek saya yang menutup hidung atau kepayahan menahan nafas.

“Durian itu surga dunia!” begitu kata mereka sambil tergelak. Saya terkekeh sedikit setelah merengut selama bau itu masih tercium.

Saya menangis ketika sepupu saya mengejar dan mencolekkan daging buah durian ke pipi saya. Ayahnya memarahinya saat itu, sementara saya menggosok pipi dengan tidak rela. Saya tidak keluar kamar kos semalaman saat teman-teman saya berpesta durian di lorong depan kamar. Baunya masih tercium hingga pagi hari, membuat saya menahan rasa ingin muntah demi tidak ingin membuat mereka merasa tidak enak telah membuat saya “kesusahan”.

Bau ini–bau durian ini–bukan hal menarik bagi saya, tapi menjadi hal berharga bagi hampir semua orang di sekitar saya. Sepertinya, cuma saya yang berbeda.

Setiap kali ada bau durian, kadang-kadang saya ingin menangis.

Durian-Fruit-3
http://www.tribunnews.com

Lalu, pada suatu hari.

Seingat saya, tidak ada yang ikut menutup hidung ketika saya disodori bau durian. Tapi hari itu, ketika saya masih menyesuaikan diri di lingkungan dalam gedung baru dengan banyak senior, tiba-tiba muncul lagi: bau durian.

Sekeras hati, rasanya ingin berkata, “Uh!” keras-keras. Hampir semua orang tertawa dan biasa saja menikmati aromanya. Sedikit kesal bercampur gengsi, saya menahan diri untuk bergerak panik.

Saya melanjutkan bekerja.

Saya menutup hidung.

Lalu yang paling saya takutkan datang: rasanya pusing dan mual.

Badan saya menolak lebih lama: saya berdiri dan mencari wastafel terdekat–atau setidaknya tempat mana saja yang bebas bau durian.

Yang mengejutkan, bukan hanya saya yang berdiri dan pergi tanpa sabar demi menghindari kejaran itu.

Seseorang di depan saya sudah berlari lebih cepat, meninggalkan meja kerjanya, demi menghindari bau yang paling saya benci.

Dia juga tidak menyukainya.

 

macbook-336704_640
http://www.pixabay.com

 

 


Bau durian masih menyebalkan.

Tapi sejak hari itu, saya tahu: saya tidak akan “menderita” sendirian.

 

Ada dia.

Bahkan, dalam menghadapi hal lain yang sama menyebalkan dan memusingkannya seperti bau durian.

 

http://www.dreamstime.com/stock-photo-image73188200
http://www.thumbs.dreamstime.com

 

And that is more than enough for me.

 

 

 

Masih ga suka durian,

Aprilia, 25 tahun.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s