Penjahit Luka yang Cukup Andal

Kepada kamu yang sedang berbahagia,

Semoga hari ini kamu bangun pagi dengan baik-baik saja. Semoga kulitmu tidak gatal karena digigit nyamuk aneh yang dengingnya memuakkan. Semoga antrean penggilingan padi pagi-pagi juga tak sepanjang mimpi, jadi kamu bisa cepat-cepat kembali sampai ke rumah.

Aku tidak menangis pagi tadi, walaupun harus kuakui belakangan ini tanggal-tanggal di kalender seperti petaka. Mendengar lagi suara kenangan yang ada di kepala seperti ditusuk belati. Meratapi masa lalu cuma ibarat menerjunkan diri dengan sukarela ke dalam jurang.

Ini bukan tentang kamu saja. Bukan tentang kamu yang berjalan dan menemui dua buah bunga menarik yang dua-duanya cocok kamu simpan di vas bunga sebelah ranjangmu. Bukan pula tentang kamu yang punya tas besar dan tak perlu khawatir kalau menemukan dua potong baju pilihan tanpa harus memilih satu.

Ini tentang kamu, aku, dan orang-orang di sekeliling.

(source: http://www.pixabay.com)

Tidak, tenang saja, aku tidak akan merengek-rengek minta dipeluk. Lagi pula, pelukanmu sudah ambigu. Plus, baunya juga bau kebohongan–sesuatu yang kupikir bukan kamu. Maksudku, sudah berapa lama kamu menabur paku selagi mendekapku kencang-kencang? Rasa-rasanya aku bisa berdarah lebih banyak daripada korban kecelakaan di dekat kantormu siang itu.

Aku juga tidak akan mengiba-iba minta dipilih karena, kamu tahu, aku tidak pernah suka menjadi sebatas opsi. Tapi, perkara bulan-bulan sebelum mimpi buruk itu terjadi, kamu telah menyimpan dan memupuk sendiri bom waktu yang ledakannya mencuat ke mana-mana–itu adalah pilihanmu sendiri. Padahal, kamu bisa menyuruhku pergi dengan alasan yang logis, tapi kamu memilih untuk mengambil saripatiku habis-habisan dan menghantamku hingga babak belur dahulu sebelum membiarkan mulutmu berkata, “Aku, ya, memang seperti ini.”

(source: http://www.pixabay.com)

Aku, ya, memang seperti ini.

Ini bukan masalah siapa yang tidak kuat mental, siapa yang pakai hati banyak-banyak. Ada hal yang namanya empati dan rasa saling menghormati, yang tak pernah bisa kamu benar-benar pahami.

Hidup bukan sebatas “Aku ingin A, maka harus dapat A”.

Hidup adalah perkara bagi-rasa, toleransi, komitmen, dan menjaga.

Tapi, siapalah aku? Hidupmu, prinsipmu.

Silakan.


Kembalinya kamu dalam beberapa putaran matahari akhir-akhir ini, harus aku akui, menjadi penghangat paling menyenangkan. Suaramu masih sama efeknya di kepalaku, meski aku tahu sekarang bahwa apa yang aku dengar bukan lagi yang akan aku dapat. Baumu masih sama dampaknya buatku, serupa obat penenang yang tak akan pernah berani aku beli sembarangan di apotek-apotek pinggir jalan.

Coba saja kutukan itu tidak menyerang; rupa genggaman tangan dan rangkulan di bahu adalah surga yang tak terbantahkan. Mungkin ibarat durian bagi orang-orang lain.

Tapi, api tetap saja api. Pisau tetap saja pisau.

(source: http://www.pixabay.com)

Kamu tetap saja kamu. Dengan seluruh belati dan jarum runcing yang, sadar atau tidak sadar, kamu tancapkan tanpa ampun di tiap jengkal kulitku.

Pada akhir hari, menatap pesanmu di ponselku adalah hal paling baik yang bisa aku lakukan, sementara aku rasa tubuhku diam-diam melebur pada arang hampa.

Gelap.


Sudah, akhiri saja kebohongan menahun ini–muslihat rasa yang membuatku menjadi segalamu. Bepergianlah dengan kompasmu, ikuti saja maumu sendiri kalau itu yang paling ingin kamu lakukan.

Lantas, luka-luka yang kamu buat?

Tenang saja, aku penjahit yang cukup andal.

 

 

Yogyakarta, 2 Desember 2018

Aprilia “I quit” Kumala

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s