Kamu Boleh Baca Ini Kalau Badainya Sudah Hilang

Sekarang hampir pukul 4 dan kamu masih duduk di salah satu meja di working space kesukaanmu. Kamu baru saja mau memesan makanan; sekalian sahur, begitu pikirmu. Tapi, si pelayan daritadi tertidur saja di balik meja kasir.

Kasihan, pikirmu. Mungkin dia lelah sekali, dan manusia kan memang bukan makhluk nokturnal, jadi akhirnya kamu kembali menghabiskan es kopimu yang tinggal sedikit.

Tadi kamu mendengar lagu I Give My Word dan Angel yang di-cover Clementine Duo. Sebuah kemajuan, sebenarnya, karena kamu tidak melulu mendengar Daniela Andrade. Petikan gitar dan suara yang menenangkan sepertinya memang menjadi obat yang paling ampuh buatmu di masa-masa ini, ya?

Selagi waktu terus berjalan, kamu tadi juga membuka laman yang biasanya kamu buka belakangan ini, hanya untuk mencari tahu perihal sesuatu. Lucu, orang-orang pikir kamu terlalu curiga dan membentuk asumsimu sendiri.

Padahal, apa yang kamu lakukan selama ini adalah upaya setengah matimu untuk membuktikan bahwa ketakutanmu salah dan kamu masih bisa percaya pada kata-kata seseorang.

Tapi nyatanya, kamu cuma akan terbentur lagi pada tanda tanya. Oh, dan tentu saja: terbentur pada sesuatu yang mendadak sia-sia karena kamu harus jatuh lagi ke dalam lubang sialan yang paling kamu hindari.

Atau, sederhananya, saat ini kamu sedang sibuk menyambut masa-masa tak ingin tidur karena kamu tahu betul kamu akan menangis saat bangun nanti, menyadari segalanya tak berjalan seperti dulu.

Menyadari tak akan ada lagi nama seseorang di hidupmu sendiri.

(source: pixabay.com)

Temanmu sudah dapat pekerjaan bulan ini dan dia tak bisa sebebas itu menemanimu yang merengek, baik karena kamu tiba-tiba teringat pada sakit hati atau karena charger ponselmu ketinggalan. Temanmu yang lain memutuskan memelihara kucing lebih banyak, jadi kamu juga tak bisa merecokinya sering-sering karena, tahu tidak, merawat kucing juga butuh konsentrasi.

Kamu beberapa kali menekan like pada kutipan motivasi di Instagram. Isinya bagus; kurasa kamu sekarang bisa meyakini bahwa kata-kata baik itu adalah doa dan kamu merasakannya betul di sana.

Omong-omong, kamu sedang pakai lipstik apa? Saat tulisan ini dibuat, kamu sedang memakai lipstik warna coklat tua dan hitam. Tadi, temanmu menyarankanmu untuk membeli lipstik merah, tapi kamu sudah tak pernah menggunakan warna merah sejak Agustus tahun lalu. Kamu menghindarinya mati-matian hanya karena kamu ingat seseorang yang dulu sangat kamu sayangi paling menyukaimu menggunakan lipstik merah.

Oh, dan bicara soal seseorang yang itu, bagaimana keadaanmu sekarang? Di sini, beberapa orang menyangsikan kamu sudah benar-benar melupakannya, meskipun mereka tahu sekarang kamu sedang bersedih gara-gara orang lain. Tapi, tadi sore, kamu pergi ke JCM. Kamu ingat apa yang kamu lihat?

Iya: dua orang yang bercerita. Dua orang yang tertawa.

Dan kamu ingat betul, seseorang yang itu-lah yang pernah membuatmu sebahagia kedua orang di hadapanmu tadi.

(source: pixabay.com)

Tapi, sudahlah, persetan dengan cinta, atau apa pun kata ganti yang tepat untuk menggambarkannya. Kamu percaya pada seseorang, jatuh, menangis, lalu percaya lagi pada seseorang yang datang, hanya untuk mengulang fase yang sama. Tidakkah itu menggelikan?

Ah, tapi coba kamu ingat-ingat: di sekitarmu, banyak orang baik. Beberapa menegurmu karena kamu bersikap cukup menyebalkan saat bersedih, dan beberapa yang lain tak keberatan menemanimu makan telur gulung sambil mengeluh.

Dunia ini, kalau harus dijalani tanpa mereka, tentu rasanya seperti neraka, walau aku sendiri tidak tahu neraka itu seperti apa.


Hari ini, kamu pergi beberapa jam di atas motor.

Kamu mengenang pembicaraanmu dengan kawan-kawan, mulai dari tiga bulan lalu, dua bulan lalu, dua minggu lalu, hingga sepuluh menit yang lalu. Saat berhenti di lampu merah, kamu menyadari sesuatu:

…betapapun kamu merasa kecewa pada dia yang sejak beberapa bulan lalu dengan sigap selalu bisa membalas leluconmu yang garingnya kelewatan, kamu selalu punya percikan ceria tiap kali namanya disebut.

Iya, kamu bahkan ingin tersenyum tiap kali mendengar atau membaca namanya, dan kurasa itu menyebalkan.

Sekarang, di atas meja kayu di working space langgananmu, kamu cuma bisa geleng-geleng kepala. Makhluk macam apa yang masuk ke kepalamu?!

Entahlah, batinmu. Kurasa, makhluk apa pun itu, dia pasti cukup bodoh dan lambat menyadari fakta-fakta di depan mata.

Maksudku, lihat saja: kamu jadi aneh begini. Haha.

(source: pixabay.com)

Sudah pukul 4, tapi belum ada azan. Pelayan masih tidur dan sudah kamu putuskan hari ini kamu akan libur lagi puasa hari Kamis. Payah, ya?

Iya, iya, benar: kamu sedang ada di masa yang paling payah dalam hidupmu sekarang, tapi jelas ini bukan gara-gara seseorang itu. Enak benar dia, mengacaukan kamu?

Kamu bersikeras bahwa ini adalah akumulasi. Akumulasi apa saja; mungkin akumulasi kesedihan, ketakutan, ketidakpercayaan, kecewa, atau bahkan perasaan tidak penting lainnya. Kamu geleng-geleng kepala, berkata bahwa ini bukan sikap yang kamu inginkan untuk menghadapi masalah, tapi sering kali inilah yang kamu lakukan: pergi jauh dan lama entah ke mana, lalu berakhir dengan melamun panjang-panjang.

Oh iya, aku lupa bilang: kamu sudah tidak bisa menangis. Kalaupun menangis, air matamu tidak keluar sama sekali. Lucu, kan?

(source: pixabay.com)

Tapi tidak apa-apa, ini toh baru sedikit dari masalah hidup yang lebih besar. Ini kan bulan April yang seharusnya jadi bulanmu. Perkara apa yang sedang terjadi, atau bakal terjadi, semuanya adalah urusan Tuhan. Yang penting, kamu sudah menyampaikan doamu setiap jam 3 pagi, walaupun dengan setengah putus asa.

Beberapa hari belakangan, doamu agak berubah. Tidak ada nama siapa pun. Yang kuingat, kamu cuma minta agar ide tulisanmu tak pernah macet.

Yah, kurasa itu cukup bijaksana untuk perempuan seusiamu.


Sudah dulu, ya. Kurasa sebaiknya sebentar lagi kamu pulang. Nanti kamu harus berangkat ke kantor dan kamu belum tidur sampai sekarang dan kepalamu berat bukan kepalang.

Kamu pikir, hal ini bukan masalah karena tidak ada yang membutuhkanmu dan kamu selalu bisa bergulung di atas kasur saja kalau sedang tidak enak badan, tapi kurasa kamu harus ingat sesuatu: kamu biasanya sangat suka bau matahari, atau angin sore, atau bintang-bintang di langit.

Dan, kalau kamu lupa, kamu bisa merasakan semuanya di luar sana.

Dan lagi, kalau kamu masih lupa, kamu bisa bebas berada di luar sana, selama apa pun yang kamu mau, hanya kalau kamu berhenti menyiksa dirimu sendiri dan kembali jadi sehat.

Jadi, sekarang, saat tulisan ini dibuat dan akan diakhiri, kamu akhirnya menggulung kabel charger dan headset-mu.

Sebentar lagi, kamu pulang.

 

Dan semoga, semuanya akan baik-baik saja.

 

Hey, semuanya baik-baik saja sungguhan, kan, di sana?

 

Kamu,

Lia.

2 comments

  1. Siapapun yang sudah menemukan jodohnya, pasti mengerti kalau dia memberikan banyak warna dalam kehidupanmu. Dia bisa melihat banyak kelebihan dari dirimu, tapi juga menerima kekuranganmu. Jodohmu adalah kekasih hatimu, teman baikmu, saudaramu, teman baikmu dan sebagainya. Kalau kamu sudah menemukan jodohmu, pasti 9 hal ini kamu mengerti.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s