Oversharing Data Pribadi Pakai Fitur Add Yours Instagram: Salah Siapa?

Saya pernah hampir menang motor ninja, tapi batal. Saya sebut “hampir” karena suatu hari surat pemberitahuan pemenang dikirim ke alamat rumah saya, beserta tempelan kartu pos yang saya kirim untuk sebuah lomba.

Sayangnya, di sebuah halaman, surat itu menyebutkan saya harus mengirim uang 25 juta rupiah lebih dulu untuk mendapatkan motor tersebut. Alih-alih mengabaikan surat karena tahu itu penipuan (dalam pengumuman resminya tidak ada nama saya sama sekali), alasan saya untuk kemudian membuang suratnya begitu saja cukup sederhana: saya nggak memenangkan boneka Donal Bebek yang saya incar!

Pertanyaan yang waktu itu berkutat di kepala saya adalah bagaimana oknum penipu tersebut menemukan kartu pos yang saya kirim, yang berisi alamat dan nama lengkap saya? Apakah semua kartu pos yang gagal memenangkan undian dibuang begitu saja, memudahkan siapa pun mengirimkan surat pengumuman palsu secara acak?

Di suatu hari yang lain, saya membeli tahu goreng dan molen di pinggir alun-alun. Penjual membungkusnya rapi dengan kertas dan keresek. Saat dibuka, saya baru menyadari bahwa kertas bungkus gorengan itu adalah fotokopi ijazah terlegalisir milik seseorang.

Apakah si pemilik ijazah ini sudah diterima kerja dan memutuskan untuk membangun karier dengan bekerja dalam jangka waktu panjang sehingga tidak membutuhkan fotokopian lainnya? Atau, si pemilik justru kesal karena belum mendapat panggilan, lantas memutuskan buka usaha sendiri sambil bersumpah tak akan merekrut karyawan dengan persyaratan mengirim fotokopi legalisir ijazah? Atau malah pihak perusahaan yang didaftarkannya membuang seluruh lamaran yang tak lagi perlu diseleksi?

Saya nggak tahu alasannya, tapi saya jadi tahu siapa nama lengkap pemilik ijazah tadi beserta tanggal dan tempat lahirnya, berikut fakta bahwa ia lumayan pintar matematika.

Data pribadi, baik yang dengan suka hati dibagikan, ditulis, atau dikirim, maupun data yang memang seharusnya ekslusif tercantum dalam dokumen pribadi, ternyata sama-sama punya ancamannya sendiri untuk tersebar. Keduanya bisa menjurus ke kemungkinan terburuk, yaitu profiling yang kerap digunakan untuk hal-hal yang tidak diinginkan.

Kalau mau jujur, kebiasaan membagikan beberapa data pribadi ini telah dimulai sejak kecil. Bagaimana caranya?
Jawabannya: mengisi data di kertas binder milik teman sekelas!

Ingat, kan, betapa kamu menulis nama lengkap dan nama panggilan di sana? Tak lupa, kolom TTL juga selalu ada; kadang-kadang bahkan disertai waktu lahir. Ditambah lagi, entah kenapa, di bangku sekolah dasar, kita kerap memanggil teman dengan nama orang tua untuk saling meledek. Oleh sebab itu pula, tak jarang sesama teman mengetahui nama orang tua temannya satu sama lain.

Oh, dan jangan lupakan kolom makanan favorit, minuman favorit, warna favorit, atau nama hewan peliharaan. Mereka bisa juga menjadi referensi jawaban dari pertanyaan keamanan alamat email dan akun pribadi. Bukankah itu sama mengerikannya?

Tempo hari, fitur Add Yours dari Instagram ramai diperbincangkan. Fitur ini memungkinkan kita “menjawab” sebuah pertanyaan, kalimat, atau perintah. Jenis pertanyaan yang belakangan populer adalah perkara variasi nama panggilan, nama lengkap anak, dan jarak usia dengan pasangan.

Tangkapan layar fitur tersebut diedit dan disebarkan di Twitter—yaitu berisi permintaan untuk membagikan selfie dengan KTP, nama gadis ibu kandung, tempat dan tanggal lahir, serta alamat rumah. Tujuannya mungkin untuk jadi bahan tohokan yang mengundang tawa, meski menyiratkan pesan pula agar kita berhati-hati. Apalagi, beberapa pengguna Twitter lain menambahkan kisah yang terjadi di sekitarnya, seperti kasus penipuan hingga penyalahgunaan foto oleh orang dengan fetish tertentu.

Maka, berbondong-bondong pengguna internet—mungkin termasuk kita—lantas mengucap syukur, mengelus dada, dan merasa beruntung sebab dirinya tidak ikut bermain fitur tersebut. Tak lupa, mereka mengajak followers-nya untuk tidak mengikuti tren Add Yours sama sekali.

Tapi, tunggu sebentar.

Apakah yang mengikuti tren Add Yours punya potensi datanya akan dicuri? Mungkin iya. Namun, hal yang sama juga mengancam mereka yang tidak turut bergabung.

Ya, tidak ikut bermain Add Yours sebenarnya tidak lantas membuat kita spesial dan aman, kok. Sebab, pada dasarnya, data itu bisa tanpa sadar kita bagikan kapan saja—sepolos kita saat kecil mengisi kertas binder milik teman.

Saat ulang tahun, misalnya, kita membuat Instagram Story untuk merayakan momen, lalu membagikannya lagi tahun depan saat telah menjadi arsip. Teman-teman yang mengucapkan via Instagram Story pun turut kita repost, menjadi semacam “pengumuman” berulang untuk para followers.

Nama lengkap ditulis dengan jelas sebagai identitas akun. Beberapa mungkin tanpa sengaja berfoto di depan rumah dan memperlihatkan nomor rumahnya, seraya memasang titik lokasi di atas foto. Menyebut nama ibu kandung meski tanpa niat membocorkan data. Tidak menutupi NIK saat sedang pamer foto KTP di TikTok. Membagikan alamat email pribadi. Dan masih banyak aktivitas-aktivitas berisiko lainnya.

Kabarnya, pihak Instagram akan menghapus stiker Add Yours yang mengumbar data pribadi. Meski demikian, yang perlu kita lakukan bukanlah sekadar “berhenti main fitur Add Yours”. Membagikan momen, informasi, tulisan, foto, dan video toh merupakan reaksi umum dalam bermedia sosial, bahkan tanpa fitur serupa. Semua orang bisa mencari tahu tentang kita tanpa bantuan Add Yours jika informasi pribadi tetap dibagikan begitu saja. Yang membedakan hanyalah kemampuan kita untuk memilah mana data yang boleh disebar dan mana yang sebaiknya disimpan.

Seperti dikutip dari Kumparan, ahli keamanan siber pun berpendapat bahwa perilaku berbagi konten netizen Indonesia memang cenderung berisiko. Tentu kamu masih ingat tren memamerkan sertifikat vaksinasi yang berisi data nama, NIK, dan tanggal lahir pengguna, bukan?

Pada akhirnya, oversharing informasi di internet memang menjadi pangkal overthinking kita yang lain. Duh, kayak overthinking masalah hidup masih kurang berat aja!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s