Perihal Penyalin Cahaya dan Penebar Bahaya

Ulasan ini ditulis sebagai bagian dari topik #30haribercerita untuk tema “film paling berkesan”.

Catatan: Tulisan ini mengandung spoiler. Kalau kamu nggak mau mendapat bocoran atau nggak tertarik menonton film ini, silakan di-skip.

Apa definisi dari “film paling berkesan”? Buatku pribadi, ungkapan itu tidak melulu merujuk pada film yang paling kamu suka. Terlalu sulit memilih film yang paling kusuka, tapi belakangan ini aku baru saja menonton film yang menurutku meninggalkan kesan cukup kuat: Penyalin Cahaya.

Untuk mempersingkat, kesanku selepas film ini berakhir adalah: capek. Marah, tentu. Mual? Iya.

Sebelum tayang di Netflix, Penyalin Cahaya telah menerima penghargaan Film Cerita Panjang Terbaik. Penulis skenarionya juga diganjar penghargaan Penulis Skenario Asli Terbaik. Itu belum termasuk nominasi lain yang juga dimenangkan. Cari saja di internet; cukup mengesankan buat sebuah film debut panjang dari penulis yang sebelumnya memproduksi film-film pendek.

Kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh co-writer film ini mencuat beberapa hari sebelum rilis di Netflix. Tim produksi film mengumumkan bahwa mereka mengambil tindakan berupa penghapusan nama co-writer tersebut, Henricus Pria (aku nggak ngerti kenapa namanya nggak disebut saja dalam surat rilis), dari daftar kru Penyalin Cahaya. Tak sedikit calon penonton yang mendukung filmnya tetap ditayangkan karena ia merupakan “sebuah kerja tim”.

Jadi, aku menontonnya. Tidak sedang lelah, tidak sedang marah—aku menontonnya siang-siang. Cerah. Tapi, jujur saja, film ini nggak mempertahankan mood yang baik.

Kisahnya bercerita tentang Suryani (Shenina Cinnamon), mahasiswa baru jurusan MIPA yang bergabung dalam UKM Teater-nya FIB. Tugas Sur—panggilan Suryani—adalah membuat situs resmi Mata Hari—nama UKM Teater tadi.

Singkatnya, Sur mengalami pelecehan seksual yang ia sendiri tak tahu pasti siapa pelakunya. Film ini mengisahkan bagaimana Sur mengumpulkan bukti untuk mencari pelaku.

Dalam perjalanannya, Sur punya banyak tantangan. Bapaknya (Lukman Sardi) sendiri tak percaya kata-katanya. Beliau hanya berpendapat Sur sudah salah karena membohonginya untuk nggak minum alkohol, pulang malam melebihi jam 9, hingga diantar cowok pulang ke rumah jam 3 pagi. Sahabat yang paling dipercayainya ternyata menjual foto-foto pribadinya (dan mahasiswi lain) ke salah satu seniornya di Mata Hari. Dewan Kode Etik kampus menyebarkan aduannya, menjadikannya balas diancam untuk dipidanakan dan dipaksa meminta maaf secara terbuka.

Kenapa film ini meninggalkan kesan (mual) yang begitu kuat? Pertama, tentu saja karena pelaku dalam film ini adalah tokoh penulis teater Mata Hari. Ironi; karena salah satu penulis film Penyalin Cahaya sendiri ternyata merupakan pelaku kekerasan seksual. Kok bisa, sih, pelaku menulis soal kasus kekerasan seksual? Perasaan korban, gimana?

Oh, omong-omong soal korban, karakter Sur nggak terlalu dikulik lebih dalam perasaannya. Fokusnya cuma menemukan pelaku. Bahkan Amin (Chicco Kurniawan), sahabat yang menjual foto pribadinya, cuma digertak dan ditinggalkan begitu saja, sebelum akhirnya didatangi lagi untuk dipinjam alat fotokopinya. Pak Burhan (Landung Simatupang), supir yang membantu pelaku, juga seperti “udah-gitu-aja” dalam film. Orang kampus yang bikin viral laporan Sur yang mestinya rahasia juga nggak dibahas lagi.

“Oh, itu, kan, untuk menggambarkan perjuangan penyintas yang emang susah banget mendapatkan keadilan dan menghukum pelaku berduit!”

Ya, bisa juga. Tapi masalahnya, gara-gara kasus kekerasan seksual dari co-writer-nya, film ini seakan-akan juga bilang: “Lihat, aku adalah pelaku, tapi aku tetap punya kuasa, bisa berjaya, menulis film tentang kekerasan seksual, mendapatkan ketenaran, bahkan menerima penghargaan.” Persis seperti karakter pelaku dalam film: Rama (Giulio Parengkuan). Kalau itu nggak bikin kamu mual, aku nggak tahu, deh, apalagi yang bisa.

Aku nggak pernah naik panggung untuk main teater, tapi adegan Rama datang ke korban-korbannya di tengah fogging sambil berjalan bak tokoh teater rasanya membosankan. Aku langsung ambil hape dan main game. Mungkin itu cuma adegan simbolis, lengkap dengan suara slogan 3M yang terdengar dari pengeras suara: menguras-menutup-mengubur—benar, bisa jadi. Tapi, durasinya lama banget!

Ah, apakah durasi yang lama juga—lagi-lagi—untuk menggambarkan perjuangan korban yang terpaksa nggak bisa bersuara, seperti yang dialami oleh Farah (Lutesha), yang harus menanggung perasaannya sendiri bertahun-tahun, sementara pelakunya bebas ndakik-ndakik fafifu wasweswos untuk menegaskan kekuasannya? Lagi—menurutku—baca lagi dua paragraf sebelum ini.

Ada beberapa pertanyaan juga yang muncul setelah menonton film ini—mungkin karena aku yang nggak cermat. Kayak: Siapa anak kecil yang ikut salat bareng keluarga Sur? Kapan minuman Sur dikasih obat/kapan dia dibius? Kalau sloki untuk Sur warnanya beda sendiri dan itu menandakan ada obat di dalamnya, kok bisa? Gimana proses masukin obatnya? Ini aku pertanyakan soalnya sebel karena korban, si Sur, dianggap halu dan terlalu mabuk untuk mengakui kecerobohannya, padahal memang ada kejahatan pelaku.

Lalu, waktu bapaknya Sur marah-marah karena Sur pulang jam 3 pagi, kenapa bapaknya Sur cuma bilang bahwa Sur “dibawa laki”, bukan “dibawa bapak-bapak” yang merujuk ke supir ojek mobil NetCar? Kenapa Sur nggak nanya bapaknya aja “laki” yang mana yang bapaknya lihat? Oh, mungkin karena Sur sudah nggak mau pulang ke rumah, ya. Lagi pula, sudah diusir. Oke. Tapi, kalaupun yang mengantar Sur adalah supir NetCar DAN Rama, kenapa pas adegan bapak dan ibunya Sur ke kampus dan ketemu Rama tuh nggak ada obrolan yang nyebut bahwa “laki ini, loh, yang mengantar kamu pulang”? Atau karena mau digambarin aja bahwa orang tua Sur udah ngecap anaknya yang salah dan bakal kalah?

Juga, di adegan akhir, pertanyaan semua orang adalah: Dari mana mesin fotokopi dapat tenaga listrik? Apakah di atap memang ada colokannya?

Bagian yang paling menarik dari film ini adalah menyadari bahwa orang-orang seperti Anggun (Dea Panendra) dan Ibunya Sur (Ruth Marini) itu masih ada, meski harus melalui perjalanan panjang.

Oh, dan terima kasih bogem mentahnya untuk Rama dan Pak Burhan, ya, Anggun dan Tariq. Tapi sebenarnya kita butuh lebih dari sebuah pukulan untuk pelaku.

Kita butuh pelaku kekerasan seksual dapat balasan yang jauh lebih buruk dari itu untuk semua trauma dan ketakutan yang sudah mereka ciptakan—bukannya penghargaan atau kuasa untuk membuat karya yang disebut-sebut sebagai representasi suara korban.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s