Menonton Ulang “13 Going on 30” sebagai Orang Dewasa Berusia 30

Film 13 Going on 30 rilis tahun 2004 dan menjadi salah satu film rom-com paling disukai sepanjang sejarah. Mengingat film tersebut menjadi referensi utama tulisan ini, biar kujelaskan garis besarnya:

Catatan: Mungkin tulisan ini akan mengandung spoiler, jadi jika kamu berniat menontonnya untuk pertama kali, lakukan sekarang juga.

Jenna (Christa B. Allen/Jennifer Garner) adalah anak berusia 13 tahun yang tumbuh dengan seorang sahabat laki-lakinya, Matthew Flamhaff (Sean Marquette/Mark Ruffalo). Seperti gambaran anak perempuan di kebanyakan film Amerika, Jenna ingin bergabung dengan geng anak populer, bahkan jika geng itu bernama Six Chick dan sudah berisi enam anggota anak perempuan di dalamnya. Meski sudah dijelaskan oleh Matt bahwa tidak akan ada anggota ketujuh dalam geng yang punya kata “six” di dalamnya, Jenna tetap merasa perlu dan penting untukbergabung dengan geng yang dipimpin oleh Tom-Tom alias Lucy Wyman (Alexandra Kyle/Judy Greer) itu.

Dalam sebuah tragedi di pesta ulang tahunnya yang ke-13, Jenna dikerjai oleh Tom-Tom dan gengnya, membuatnya memilih untuk malah berbalik marah pada Matt yang tidak tahu apa-apa. Jenna mengunci dirinya di sebuah lemari, menangis, dan melihat sampul majalah Poise yang bertuliskan headline: “Thirty, Flirty and Thriving!”. Sambil memejamkan mata, Jenna membenturkan badan belakangnya ke rak, menyebabkan bubuk-pengabul-keinginan—yang sebelumnya ditaburkan Matt dan Jenna ke rumah boneka buatan Matt sebagai kado untuk Jenna—jatuh sedikit demi sedikit padanya, selagi ia mengucapkan harapannya untuk menjadi berusia 30 tahun, flirty and thriving.

Bubuk-pengabul-keinginan yang awalnya kukira cuma akal-akalan produsen untuk mengelabui anak-anak ternyata malah menjadi gerbang cerita ini dimulai.

Mendadak semuanya berubah: Tidak ada Jenna-13-tahun. Ia menjelma menjadi Jenna-30-tahun. Begitu saja.

Jenna Rink menyadari dirinya yang sudah 30 tahun ini tinggal berdua dengan pacarnya yang merupakan atlet hoki, sementara dirinya adalah seorang editor ternama majalah Poise dan menjadi rekan kerja Lucy Wyman. Dalam sebuah kesempatan, ia bahkan diberi tahu bahwa dirinya justru menjadi ketua geng Six Chick dan bersahabat dekat dengan Lucy.

Usia 30 yang diharapkan Jenna kini sudah menjadi nyata dan rasanya tak perlu ada lagi kesulitan dalam hidup Jenna.

Seharusnya begitu, kan?

Kita Tidak Tahu-Tahu Jadi Dewasa,

Kita Tidak Tahu-Tahu Jadi “Dewasa”

Dulu, aku penasaran apakah orang tuaku sungguhan tumbuh dari anak kecil menjadi orang dewasa atau langsung menjadi ayah dan ibu begitu saja setelah lahir ke dunia. Aku mendengar petuah legendaris yang mengatakan bahwa orang-orang yang lebih dewasa sudah banyak makan asam garam kehidupan. Tapi, pikirku, seberapa lamanya, sih, menghadapi “asam garam” itu? Lagi pula, bukankah mereka bisa saja tumbuh dewasa dengan—boooom!—begitu saja, seperti Jenna Rink di 13 Going on 30?

Dua pertanyaan ini cukup lama berada di kepalaku sampai aku menyadari bahwa aku sendiri perlu berkali-kali ulang tahun untuk merayakan pencapaian ini: menjadi dewasa dalam simbol angka, juga menjadi lebih “dewasa” berkat apa pun yang hidup ini tawarkan.

Jenna melompati usianya sendiri dari 13 ke 30. Jenna tidak harus merasa lelah kepayahan sepulang dari ospek atau merutuki kecerobohan diri sendiri saat melakukan kesalahan dalam bekerja; dia hanya tiba-tiba muncul di usianya yang ke-30, memetik apa yang dia tidak tahu telah dia tanam.

Satu paragraf penuh di atas menjadi kabar gembira dan kabar buruk bagi kita. Kabar gembiranya, kita nggak menjadi dewasa dengan instan seperti Jenna, yang berujung membuatnya kebingungan seperti orang yang mabuk setiap jam. Jenna merasa hidupnya sempurna, setidaknya sampai ia menyadari hubungannya begitu buruk dengan orang tuanya, dia sudah memiliki pacar tapi masih berselingkuh dengan suami salah satu karyawan di tempatnya bekerja, dia mencuri ide rekannya di kantor, dia mengkhianati tempat kerjanya demi keuntungannya semata, dan dia meninggalkan sahabatnya sendiri karena dia ingin menjadi cool, bukan original.

Lalu, apa kabar buruknya? Tentu saja ini:

Kita nggak menjadi dewasa dengan instan seperti Jenna.

Itu menjadikan kita—mungkin—tidak akan bisa melewatkan begitu saja kesempatan bergabung dengan klub teater di umur 14, merasakan jatuh cinta yang normal ke cowok yang tidak harus populer di umur 17, berpisah dengan keluarga karena harus pergi berkuliah di kota sebelah saat berusia 18, pindah jurusan kuliah setelah ulang tahun ke-19, mendapatkan laptop baru di usia 20, lulus kuliah saat berumur 23, patah hati usia 24, mendapatkan pekerjaan impian di usia 25, diselingkuhi kekasih dengan temannya sendiri di umur 26, berkencan dengan orang brengsek di usia 27, menonton konser penyanyi favorit sambil menangis di usia 28, sebelum akhirnya pindah ke kota lain dan bertekad memulai hidup baru, dan lain-lain-lainnya. Semua bahagia, tangis, gembira, patah, harapan, dan mimpi buruk itu seperti dipadatkan dan kita harus menelannya bulat-bulat.

Kita harus menelannya bulat-bulat karena kita nggak menjadi dewasa dengan instan seperti Jenna.

Menjadi 30 Tahun,

Menjadi Jenna Rink

Sebagai anak perempuan seperti Jenna Rink yang sama-sama pernah berusia 13 tahun dan merasa usia 30 tahun bakal seru, aku merasa ada banyak hal yang baru aku tahu saat sudah melewati sebagian di antaranya.

Tidak ada satu orang pun yang memberi tahuku sebelumnya bahwa teman yang kamu punya sejak usia 13 tahun mungkin tidak lagi bicara denganmu di usia 18. Setelah kamu lulus kuliah, orang-orang mengharapkanmu langsung diterima kerja saat itu juga. Tidak ada konser yang membolehkanmu masuk dengan korek api di tasmu, tak peduli kalau kamu baru membelinya sepuluh menit yang lalu. Ternyata, tidak semua I love you berarti I love you; sebagian di antaranya mungkin berarti aku-tidak-tahu-perasaan-apa-ini-tapi-tetaplah-di-sini-dan-jadilah-penggemar-terbesarku-sampai-aku-menemukan-penggemar-lainnya. Lagu-lagu cinta bertepuk sebelah tangan mungkin tidak dibuat khusus untukmu, tapi mendengarkannya sambil menangis membantu melepaskan emosi setelah patah hati.

Bekerja lembur tidak direkomendasikan, tetapi kadang-kadang hal itu justru membuatmu berhasil melupakan apa yang ingin kamu lepaskan. Gebetan yang kamu sukai diam-diam sejak di bangku sekolah mungkin memiliki karakter yang benar-benar berbeda dengan yang kamu bayangkan saat kalian bertemu kembali di usia hampir 30. Adik kecilmu akan selalu terlihat bagai anak balita, meski usianya kini mendekati kepala dua. Kamu memutuskan untuk tidak akan menikah dan mengutuki segala upaya romantis orang-orang baru, tetapi seorang kawan justru berhasil meyakinkanmu untuk bertukar cincin segera setelah kalian berulang tahun ke-28. Kamu mungkin tidak berpikir untuk langsung punya anak setelah menikah, tetapi setelah keponakanmu pulang kembali ke rumahnya, kamu mulai bertanya-tanya apakah mungkin Tuhan mengizinkanmu mengandung janin kali ini.

Thirty, Flirty and Thriving?

Aku cukup yakin tidak pernah menyiram tubuhku sendiri dengan bubuk-pengabul-keinginan dan tidak berubah menjadi 30 tahun dalam sekejap. Namun, ada banyak waktu aku kehilangan petunjuk dan menjadi sama bingungnya dengan Jenna Rink.

Mungkin, tidak ada yang salah dengan perasaan itu. Yang kupikir salah adalah headline dalam majalah Poise.

Alih-alih “Thirty, Flirty and Thriving!”, kenapa bukan “Thirty, Turvy and Thrilling!”?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s