Merantau, Seperti Kakak.

Kalau dipikir-pikir, sampai hari ini saya masih bertanya-tanya: apa yang saya lakukan di sini, di kota orang, ngekos sendirian?


Hari itu, hari kelulusan saya dari SMA tiba. Tes ujian masuk universitas pun saya lakukan. Sampai nama saya berhasil masuk di universitas di Jatinangor, saya bersiap-siap pergi dari rumah: zona nyaman saya.

Ayah saya berpendapat Jatinangor akan aman bagi saya, mengingat kakak saya pun ada di situ. Selama beberapa tahun terakhir, Jatinangor telah menjadi tempat familiar bagi saya, karena setiap liburan saya selalu datang ke kosan kakak.

gerbangunpad

Saya sakit, saya sehat, tertawa, menangis sampai kering, kembali di Jatinangor. Teman-teman saya menangis rindu orang tuanya. Saya tidak bisa merasa kesepian begitu besar seperti mereka, karena kamar sebelah saya adalah kakak saya sendiri. Yang berbeda, saya tidak bisa mengangkat telepon dari orang tua saya tanpa merasa ingin pulang.

Rindu.

Ya, saya rindu. Merantau membuatmu rindu.

Setelah kakak saya sibuk pulang terlambat dan mengurus job training sampai skripsinya, saya baru merasakan rindu itu semakin besar. Saya baru merasa benar bahwa saya adalah perantau yang datang jauh-jauh ke kota orang. Saya tidak bisa berharap semua makanan akan terasa sama dengan masakan Ibu. Saya harus bisa mengatur kamar saya agar terlihat lebih rapi dan lega, kalau saya tidak mau setiap jengkal lantai ditutupi kertas laporan. Saya, lama-lama, terpaksa mandiri dengan sedikitnya kehadiran kakak saya.

girl-56721_1920.jpg


Singkatnya, Jatinangor terlalu keras pada saya. Setidaknya, pada tubuh saya.

Setelah tumbang dan dikuasai emosi demi mengikuti apa yang orang bilang sebagai passion, kota rantau kedua saya adalah Jogja.

Jogja bukan kota asing. Waktu kecil, saya sering datang kemari, ke tempat praktik Tabib di Jalan Magelang; Pakde saya. 

Jogja selalu memberi rasa “pulang ke rumah” yang bahkan tidak saya mengerti kenapa.

kota-jogja-www-siperubahan-com-as

Jogja mengizinkan saya tinggal sendiri di kosan pertama saya: ruangan kotak berbatas dinding tembok dan triplek. Saya bertemu mata kuliah yang selalu saya bayangkan, buku-buku kamus yang sedari dulu saya impikan.

Saya belajar tidak mengeluh cepat-cepat. Saya tidak lagi bisa langsung mengetuk kamar kosan sebelah, karena saya tahu di sana tidak ada kakak saya.

Padahal dulunya saya manja sekali.

Saya tidak berani mencoba makan di tempat baru kalau tidak dengan kakak saya, waktu dulu. Saya bahkan pernah meminta kakak saya datang di tahun pertama saya di Jogja hanya karena saya ingin ditemani membeli rok.

Ibu saya menelepon setiap hari. Ayah saya menyuruh saya kembali ke kosan selepas Maghrib. Rasanya sudah semakin dewasa, tapi untuk datang ke beberapa acara saja tak boleh. Sudah malam, katanya. Tidur. 

Padahal, kadang saya harus bertahan menghadapi insomnia.

Sering, saya mengadu pada kakak. Dia cuma tertawa dan bilang, “Ya udah, Papa kan gitu. Kamu hapenya jangan susah ditelepon, nanti pada panik.”

Merantau itu sepi. Benar. 

Saat kuliah menjemukan, badanmu sakit, migrainmu kambuh, kamu harus pulang sendiri sampai ke kamar kosan. Tidak ada ayah, tidak ada pula ibu. Kamar sebelah bukan kamar kakakmu. Adikmu bahkan tidak akan berani datang sendiri. Kakimu lemas tapi tidak boleh mengeluh, kecuali kalau kamu mau tidak makan malam ini. Kalau deterjen atau air minummu habis, kamulah yang bergerak. Tidak ada lagi Mbak yang jadi asisten rumah tangga ibumu. Sepraimu pun harus kamu luruskan sendiri. Antena TV yang bermasalah harus segera kamu tangani mandiri; bicara sendiri pada bapak kos (basically,  awalnya berbicara pada orang asing itu not-my-thing, tapi it’s a must!).

Untung, Jogja tidak berubah dan tetap baik hati. Badan saya bahkan tidak menyerah, tidak lagi sampai terkapar dua minggu dengan infus.

Lama-lama saya menemukan ritmenya. Kos seperti apa yang saya suka, bagaimana caranya bertanya harga makanan, bagaimana cara menaruh cucian di laundry, jalan ke arah mana yang hanya boleh searah, tempat-tempat mana saja yang menyediakan pilihan buku kuliah, bagaimana caranya mengatur panas di setrika, selimut seperti apa yang dibutuhkan, dan hal-hal lainnya.

Saya salut pada mereka yang bisa bertahan hidup dengan teratur dan tidak merengek, seperti kakak saya yang tahan banting kuliah hingga bekerja dari Jatinangor, Bandung, Jakarta, sampai Tanjung Enim.

Maka dengan bahagia, hidup saya di Jogja kemudian menjadi jauh lebih menyenangkan, membayangkan bagaimana kakak saya pun mengalami hal yang sama: bertahan hidup sendiri dan mandiri selama bertahun-tahun. Apalagi sekarang, saya merantau bukan kuliah. Saya bekerja, tepat seperti kakak saya.

Itu artinya, saya harus pandai-pandai mengatur uang masuk dan keluar, di samping segala “keharusan” lain yang sudah disebutkan.

Merantau membuat saya rindu, memang.

Tapi merantau juga membuat saya tahu bahwa saya bisa menjadi sekuat kakak saya.

Ya, saya akan menjadi sekuat kakak saya.

brothers-and-sisters-610472_1920

PS: Saya sudah berani membeli rok sendiri sekarang.

 

 

 

Always be “anak kecil di rumah”

Aprilia, SUDAH 24 tahun.

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s