Ujungalang Punya Cerita

Alasan, menurut KBBI, adalah hal yang menjadi pendorong (untuk berbuat sesuatu). Alasan, menurut saya, adalah hal yang berbentuk tanda tanya, sampai kamu menemukan tanda titik.

Siang itu, saya bertanya-tanya terlalu banyak, sampai akhirnya memutuskan untuk mengisi kolom pendaftaran relawan pengajar Kelas Inspirasi Cilacap 2017 di hari terakhir, 2 Agustus 2017.


Ruang Tunggu Penumpang, Dermaga Sleko, 11 Agustus 2017

Terduduklah saya di kursi yang hampir paling pinggir. Mata saya sesiangan itu berputar demi mencari Isa (sahabat saya sejak SMA) yang sudah berjanji akan bantu nge-print file untuk keperluan saya ngajar besok. Semakin lama, ruang tunggu yang tadinya sepi itu pun–seiring kebelumdatangan Isa–berubah menjadi ramai dan penuh kata “Halo!” serta jabat tangan.

Pertemuan pertama yang serentak. Forum yang tadinya virtual mendadak berubah jadi nyata dalam hitungan menit. Beberapa orang bertanya asal daerah, diikuti pertanyaan standar, “Kerja di mana?” yang bertubi-tubi. Bahkan setelah kedatangan Isa, saya sudah bersalaman (dan sekali berpelukan dengan Mba Desi–mantan rekan kerja di Inspira Book) dengan beberapa orang, sembari berdiri di samping Doni (sahabat saya yang lain sejak SMA).

Dimulai dengan briefing dan berdoa, perjalanan kami akhirnya dimulai pada sebuah kapal.

WhatsApp Image 2017-08-14 at 08.28.58

serta catatan di halaman pertama.

whatsapp-image-2017-08-14-at-15-12-01.jpeg

Sepanjang waktu duduk dengan deru mesin kapal, saya membayangkan perjalanan ini semacam menempuh kota yang penuh sesak dengan bangunan tinggi, namun jalanan aspalnya berupa air, sedangkan gedungnya adalah ratusan pohon hijau yang melambai dan kendaraannya adalah kapal yang berisi jala dan nelayan.

 

 

This slideshow requires JavaScript.

Percayalah, perjalanan saat itu memukau (walau airnya cukup keruh).


Ujung Alang, Kampung Laut, 11 Agustus 2017

Perjalanan kami sampai di babak baru ketika sebuah gapura berdiri di tepi daratan. Sontak, perasaan antusias itu muncul, menggerakkan tangan dan mata tiap orang untuk merekam bentuk nyatanya.

WhatsApp Image 2017-08-13 at 23.52.18

Semangat yang lebih membuncah kemudian datang saat seseorang balas berteriak, “Ada jembatan, kita sudah sampai.”

WhatsApp Image 2017-08-14 at 15.17.38

Jembatan kuning itu, disebut sebagai jembatan terapung, letaknya memang sangat dekat dengan tempat pemberhentian kami. Sebentar saja (kurang dari 15 menit), kapal kami berhenti sempurna.

Dan mendaratlah kami di Kampung Laut.

WhatsApp Image 2017-08-14 at 15.32.21
Foto cantik ini diambil oleh Mas Bagus, videografer kelompok kami.

Jalanan Setapak yang Utama

Perjalanan saya dan teman-teman dari dermaga harus berlanjut ke sekolah tujuan dengan berjalan kaki. Jaraknya tidak jauh, tapi juga tidak bisa dibilang dekat. Sepanjang jalan ada banyak anak kecil–mereka akan balas tersenyum kalau kamu juga tersenyum. Beberapa dari mereka bahkan berseru, “Selamat datang!” sambil meletakkan telapaknya di dahi, berpose memberi hormat.

Jalanan yang saya lewati berupa jalan kecil selayaknya sebuah gang. Di kanan kiri, rumah-rumah cukup padat. Beberapa di antaranya dibangun dengan posisi yang cukup tinggi, mungkin untuk menghindari banjir atau air meninggi. Di sana, banyak warung kecil yang buka–kebanyakan dijaga ibu-ibu yang mulai menua. Kue pancong (serabi) dijual 500-an setiap potongnya dengan taburan gula pasir di seberang gereja tua warna biru kusam. Sepanjang perjalanan di antara jalan yang tidak rata ini, anak kecil terlihat lebih banyak lagi.

This slideshow requires JavaScript.

Cukup mengagumkan bahwa semua ini benar-benar ada di atas sebuah pulau kecil yang cukup jauh dari kota utamanya.


Sekolah yang Berada di Depan Rumah

Lalu sampailah saya dan semua rombongan pada anak-anak yang mengikuti dengan pandangan ingin tahu. Beberapa orang segera mengambil foto sebanyak-banyaknya, mengikuti ke mana mereka berlari, dan mengacungkan kamera untuk dokumentasi. Di depan sekolah, rumah penduduk berdiri dengan dekat, seakan memandang ke seluruh penjuru. Pikir saya, pastilah mereka tetap beruntung. Sekalipun tempat ini cukup pelosok, sumber pendidikan tetap berdiri sedekat ini dengan rumah tempat meneduh.

DSC_0214
Foto ini diambil dengan apik dari kamera Mas Irawan!

Maka sore itu, alasan perjalanan saya mulai diuji.


Hari Inspirasi, 12 Agustus 2017

Alasan, menurut KBBI, adalah hal yang menjadi pendorong (untuk berbuat sesuatu). Alasan, menurut saya, adalah hal yang berbentuk tanda tanya, sampai kamu menemukan tanda titik.

Kelas Inspirasi Cilacap adalah pencarian saya atas jawaban dari pertanyaan yang saya lempar sendiri. Kesempatan satu hari “mengajar” di depan anak-anak ini saya ambil dengan pertaruhan kerjaan yang sedang menumpuk (bahkan saat tulisan ini dibuat), apalagi karena kantor kami akan menerbitkan dua buku dan banyak ebook, termasuk video panduan yang produksinya jelas akan menyita waktu.

Alasan inilah yang kemudian membuat saya “tertampar”.

Dibandingkan “alasan” saya yang cukup self-centered, saya malah bertemu dengan banyak orang yang luar biasa. Diam-diam, saya mengamati mereka satu per satu. Seperti Ujung Alang yang jauh dari pendopo pemerintahan di alun-alun Cilacap, orang-orang ini tinggal berjauhan dengan saya tapi ternyata kami punya harapan yang sama akan senyum anak-anak hari itu.

WhatsApp Image 2017-08-14 at 00.14.33
Taken by Mba Intan. Precious!

Selanjutnya, perjalanan kami hari itu benar-benar dimulai. Semua persiapan memasuki “garis batas” untuk segera direalisasikan.

Kami bergerak.


Editor di Depan Kelas 3 dan 5, serta Cerita Acak

Keinginan saya di Kelas Inspirasi Cilacap ini, selain alasan saya, adalah untuk memperkenalkan profesi editor pada mereka yang berseragam sekolah dasar. Ketika saya duduk di bangku SD, saya tidak mengenal profesi ini–memimpikannya saja belum.

Maka masuklah saya hari itu, di jam pelajaran pertama dan ketiga, ke kelas 5 dan 3. Di kedua kelas ini, saya bertanya terang-terang, sedikit berharap pada binar mata 30-an anak di depan saya,

“Ada yang tahu editor buku itu apa?”

Tidak ada koor jawaban, “Tidaaaak!”; yang ada hanyalah gelengan kepala dan mata penuh tanda tanya. Saya terkekeh dalam hati. Wajah mereka polos sekali. Lucu!

Hari itu, 12 Agustus 2017, saya memperkenalkan profesi saya pada mereka: editor buku.

DSC_0063.JPG
Perkenalkan: Aprilia, Editor.

Karena dasar pendidikan saya adalah Pendidikan Bahasa Inggris, saya pernah mengajar beberapa kali sebelum ini dan menjadi guru bahasa Inggris SD serta SMP. Menghadapi anak-anak : hal yang baru bagi saya, tapi selalu memberi perasaan yang baru setiap kali. Di SDN Ujung Alang 01 ini, saya merasakannya lagi.

DSC_0081

DSC_0084

DSC_0082

Di kelas 5, saya memberikan gambar acak pada mereka, meminta mereka menuliskan sebuah cerita berdasarkan gambar-gambar ini secara berkelompok. Sekalipun banyak dari mereka tidak tunjuk jari saat saya bertanya, “Siapa yang suka baca buku?”, mereka tetap menunjukkan antusiasme saat saya membagikan gambar (diambil dari kartu Pictureuka yang saya punya).

Agak mirip konsepnya, di kelas 3, saya mengajak murid-murid untuk “tidur siang” selama 1 menit. Saya bagikan kertas dan saya minta mereka menuliskan apapun yang jadi mimpi dan keinginan mereka yang dibayangkan di kepala. Lucu-lucu jawabannya: ada yang bermimpi punya mobil, jadi setan, jadi presiden, jadi personil Coboy Junior (wkwkwk), sampai ingin punya istri yang cantik kalau sudah dewasa! HAHAHAHA APAAN.

WhatsApp Image 2017-08-14 at 15.12.00
Hasil anak kelas 3
WhatsApp Image 2017-08-14 at 15.12.01 (1)
Hasil tulisan anak kelas 5

Dari masing-masing 30 menit di tiap kelas, bagian yang saya sukai adalah ketika mereka balik menatap mata saya.

Karena di sana, saya melihat harapan.


Di Luar Alasan

Alasan saya untuk bergabung dengan KIC masih tersimpan dalam-dalam di kepala saya–belum saya bagi untuk siapapun. Tapi, tanpa saya sadari, yang saya dapatkan dari KIC malah lebih dari sekedar “jawaban dari alasan”, yaitu: daftar nama baru dalam kontak telepon berisi nama-nama orang yang luar biasa hebatnya DAN banyak malaikat kecil yang selamanya terngiang-ngiang di bayangan saya, bercita-cita dengan tinggi.

 

Yang jelas, lewat KIC, saya tahu bahwa saya tidak sendirian.

Pada setiap rasa tercekat di kerongkongan karena haru dan setiap senyum yang merekah pelan-pelan, terima kasih!

 

 

 
Yogyakarta, 

Aprilia, editor.

Advertisement

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s